Jabar Gagas Sekolah Berbasis Lingkungan

Bayu Anggoro
13/7/2017 19:09
Jabar Gagas Sekolah Berbasis Lingkungan
(Dok. MI)

KERUSAKAN lingkungan di Jawa Barat sudah sangat mengkhawatirkan. Derasnya arus industrialisasi dan buruknya perilaku masyarakat terhadap lingkungan dinilai menjadi penyebabnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah (DLH) Provinsi Jabar, Anang Sudarna, mengatakan, kondisi itu mulai terjadi sejak akhir 1980-an, saat industrialisasi menyerbu Jabar.

"Sejak marak industri, kondisi lingkungan di Jawa Barat terus mengalami tekanan. Memang tidak bisa dihindari, untuk pertumbuhan ekonomi. Namun dampaknya juga kualitas air, udara, terus mengalami tekanan," kata Anang di Bandung, Kamis (13/7).

Menurut dia, perlu kerja keras dari semua pihak untuk memperbaiki lingkungan di Jabar. Sebagai contoh, kata dia, meski banyak yang menilai Sungai Citarum sulit untuk dinormalisasi, dia optimistis hal ini bisa dilakukan jika semua pihak memiliki tekad dan komitmen yang sama.

Oleh karena itu, pihaknya terus berupaya melakukan berbagai perbaikan. Selain menggagas berbagai program seperti Citarum Bestari, yang tidak kalah penting ialah menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan sungai.

Selama ini, dia menilai, pencemaran sungai-sungai di Jabar akibat buruknya perilaku masyarakat.

"Masih banyak warga yang membuang sampah ke sungai," katanya.

Oleh karena itu, pihaknya terus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan sungai.

"Tingkat kesadaran terus kita pulihkan," katanya.

Salah satunya dengan menggerakkan masyarakat agar mau membersihkan lingkungan masing-masing.

"Bebersih di desa kita masing-masing. Ini kita lakukan sepanjang tahun," katanya.

Selain itu, pihaknya pun kini berupaya untuk menyadarkan masyarakat sejak dini dengan menggagas program sekolah berbasis budaya lingkungan.

"SMA/SMK wajib secara bertahap. Targetnya 2020, seluruh SMA/SMK bisa berbasis budaya lingkungan," katanya.

Pada tahun ini, pihaknya menargetkan 168 sekolah di Jabar untuk diberi pemahaman akan pentingnya menjaga lingkungan. Sekolah-sekolah tersebut, lanjut Anang, akan diberi pemahaman tentang menjaga lingkungan, salah satunya meminimalisasi produksi sampah.

"Harus diberi pemahaman, misalnya jangan banyak memproduksi sampah. Dalam setiap pelajaran dijelaskan. Misalnya ketika belajar masalah biologi, bagaimana kaitannya dengan lingkungan," katanya.

Melalui program ini pun, siswa akan dilibatkan dalam menjaga kebersihan sekolah.

"Tiap hari dalam menjaga kebersihan sekolah, kenyamanan, melibatkan siswa. Walau ada cleaning service, itu sebagai pengawas, pembina," katanya.

Dengan begitu, dia yakin setiap generasi muda ini akan memiliki kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.

"Yang tidak kalah penting wajibkan untuk tidak produksi sampah. Wajibkan membawa botol minum masing-masing, agar tidak menambah beban sampah," katanya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya