Festival Petik Lada Digelar, Petani Lampung Timur Murung

Eva Pardiana
09/7/2017 21:51
Festival Petik Lada Digelar, Petani Lampung Timur Murung
(MI/EVA PARDIANA)

MINGGU (9/7) pagi, sekitar pukul 07.00 WIB para petani dan warga di Kecamatan Margatiga, Kabupaten Lampung Timur, Lampung, telah berkumpul di lapangan yang tepat berada di depan kebun lada milik salah satu kelompok tani.

Layaknya sebuah pesta rakyat atau festival, telah disiapkan tenda untuk para tamu undangan dan panggung khusus untuk bupati menyampaikan sambutannya, lengkap dengan iringan musik tradisional gamolan yang membuat suasana semakin semarak.

Selepas memberikan sambutan dan secara resmi membuka festival, Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim menyanyikan lagu Tanoh Lado (Tanah Lada) yang menceritakan kebanggaan atas limpahan kekayaan alam, khususnya lada di Bumi Ruwa Djurai.

Namun, kemeriahan itu justru tak dirasakan para petani lada. Sebagian hanya menatap kosong di tengah keramaian. Hati mereka dipenuhi rasa risau dan khawatir. Akankah lada yang mereka hasilkan terus menjadi kebanggaan masyarakat Lampung, sementara kini tingkat produksi dan harga lada justru terus mengalami penurunan.

Alih-alih turut bergembira dalam semarak festival, Kelompok Tani Desa Sukadana Baru, RT 11, Dusun 3, Kecamatan Margatiga mengeluhkan produksi lada yang turun drastis akibat cuaca ekstrem yang berlangsung satu tahun terakhir. Kurangnya sinar matahari menjadi penyebab utama rendahnya hasil produksi.

Ketua Kelompok Tani Sidomaju, Surahman, mengatakan, saat cuaca normal, atau paling tidak sinar matahari cukup selama tiga bulan, produksi lada per 1 hektare bisa mencapai 2 ton lebih. Namun, kali ini produksi hanya 160 kg per ha.

"Sekarang ini cuaca nggak menentu, panas tiba-tiba hujan, kalau kemarau tiga bulan aja, produksi bisa bagus," kata Surahman saat berlangsungnya Festival Petik Lada 2017 di Margatiga, Lampung Timur, Minggu.

Tidak hanya itu, selain produksi, harga lada pun kini sangat rendah jika dibandingkan dengan musim panen sebelumnya. Pada 2015, harga lada per kg mencapai Rp130 ribu. Pada 2016 turun menjadi Rp100 ribu per kg. Tahun ini, harga lada berada di titik terendah yaitu hanya Rp40 ribu per kg.

"Barang berkurang, harga juga turun gak ngerti kami itu masalahnya di mana," ujar Surahman.

Akibat turunnya produksi dan harga lada di pasaran, Surahman dan petani lada lainnya mengaku mengalami kesulitan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Untuk meyiasati agar tidak merugi, petani mengaku disarankan oleh pemerintah untuk menyimpan hasil panen dan menjualnya saat harga kembali normal.

"Bisa saja kita simpan, karena daya simpan lada ini cukup lama, bisa satu tahun lebih, tapi kami kan butuh uang untuk makan sehari-hari, jadi tidak mungkin di simpan," kata Surahman diamini rekan-rekan kelompok tani lainnya.

Untuk itu, kelompok Tani di Desa Margatiga meminta kepada pemerintah untuk menstabilkan harga lada agar mereka dapat bertahan. Bantuan berupa obat-obat tanaman dan pupuk organik sangat dibutuhkan mengingat pembiayaan pupuk mencapai 30% dari total biaya produksi.

"Setahun pemupukan tiga kali, 1 hektare bisa menghabiskan 1 ton pupuk organik dan biayanya cukup besar. Jika pemerintah memberikan bantuan, pasti akan meringankan. Tahun-tahun sebelumnya bantuan itu ada, tapi tahun ini belum," ujar Surahman.

Menanggapi keluhan petani, Bupati Lampung Timur mengaku telah memberikan bantuan 42 ribu bibit tanaman lada. Namun, untuk pupuk subsidi ia mengakui tidak semua kelompok tani memperolehnya.

"Pupuk itu bantuannya dalam bentuk subsidi, tapi memang tidak semua. Anggaran ini dibagi-bagi, untuk infrastruktur, pendidikan, jadi memang bantuan belum menjangkau semuanya," kata wanita yang akrab disapa Nunik itu.

Terkait harga lada yang rendah, Kepala Dinas Perkebunan Lampung Timur, M Yusuf, mengatakan, mekanisme harga tergantung pada eksportir. Saat harga turun, biaya operasional ekspor tidak berkurang, sementara kuota ekspor harus terpenuhi. Sehingga saat produksi rendah, daya beli eksportir juga menurun.

Dalam mengatasi hal ini, kata Yusuf, selain bantuan bibit, pemerintah kabupaten mengambil peran memberikan pengetahuan dan pendampingan kepada petani untuk meningkatkan hasil produksi. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya