Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait menjenguk salah seorang korban penganiayaan dan pembunuhan berinisial INT, 11, warga Kampung Sukabetah, Kelurahan Sukaasih, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.
Dilaporkan kondisi korban sekarang telah membaik setelah temannya yakni WND, 10, meninggal dunia di tangan pelaku RA, 15.
"Korban sekarang ini kondisinya telah mengalami perubahan dan bisa berkomunikasi, tetapi tiga hari lalu banyak diam dan sekarang ini justru telah banyak tersenyum. Sedangkan di dalam ruangan juga telah ditempatkan dua dokter yang setiap hari melakukan pengontrolan mulai dari dokter anak dan dokter bedah yang selalu siap menjaga," kata Direktur Utama RSUD dr Soekarjo, Kota Tasikmalaya, Wasisto Hidayat, Rabu (5/7).
Wasisto mengatakan, kondisi pasien masih dirawat di Ruang VVIP C Sukapura I dan seluruh biaya pengobatan telah ditanggung dan telah dijamin oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya. Diharapkan keluarga tidak khawatir akan biaya pengobatan karena pihak pemerintah setempat telah berupaya agar korban cepat membaik, terutama kondisi kesehatannya.
Untuk kesembuhan fisik kemungkinan dibutuhkan waktu 10 hari, dan selanjutnya korban akan dilatih fisioterafi trauma pada kepala.
"Untuk fisik sudah membaik dan diharapkan empat hari lagi korban INT telah membaik, tetapi tetap di ruangan dipantau oleh dua dokter, terutama kondisinya. Untuk luka tidak terlalu berbahaya dan bisa sembuh secara sempurna, tapi korban masih ketakutan jika menengok ke sebelah kanan dan kiri yang terdapat sayatan yang dilakukan pelaku," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Komnas PA mengatakan, pemerintah daerah telah menjamin kesehatan termasuk biaya pengobatan untuk korban, semuanya ditanggung. Menurut Arist, kondiri INT sekarang ini telah mengalami perubahan, dengan bisa diajak berbicara dan bermain. Kini, yang terpenting, lanjut dia, keluarga dan pasien juga harus diberikan trauma healing
"Kami sempat berkomunikasi dan dia tersenyum sesekali berbicara hingga mudah mendengar tetapi yang terpenting harus dibuat pendekatan melalui trauma healing agar bangkit kembali dan melanjutkan masa depannya dan pasien ini juga akan terus diberikan fasilitas lainnya terutama dilatih oleh petugas melalui TP2A agar psikologis anak dan orangtuanya kembali pulih. Tentunya penyembuhan itu tergantung pada pasiennya sendiri," katanya.
Arist mengungkapkan, orangtua pasien sekarang ini masih berada di luar negeri tetapi untuk langkah selanjutnya pihak kepolisian harus secepatnya didorong agar proses hukum terhadap tersangka selesai pada 14 Juli agar diajukan ke pengadilan.
"Untuk orangtua pasien sendiri sekarang ini masih di luar negeri tetapi upaya hukum harus terus didorong agar berkas secepatnya dilimpahkan ke pengadilan," pungkasnya. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved