Pastika Minta Pariwisata Bali tidak Terlena dengan Kunjungan Tokoh Dunia

Arnoldus Dhae
05/7/2017 18:36
Pastika Minta Pariwisata Bali tidak Terlena dengan Kunjungan Tokoh Dunia
(ANTARA)

GUBERNUR Bali Made Mangku Pastika mengatakan, Bali tidak boleh terlena dengan banyak kunjungan dari para pemimpin dunia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Bali dalam beberapa bulan terakhir mendapat kunjungan sejumlah tokoh dunia seperti Raja Salman Bin Abdul Aziz al Saud, kemudian yang baru saja ialah mantan Presiden Amerika Barack Obama dan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak.

"Untuk pencitraaan, pariwisata Bali memang luar biasa. Namun, Bali tidak boleh terlena, karena pesaing Bali sudah terlalu banyak. Bahkan, bukan hanya dari luar negeri tetapi dari dalam negeri sendiri," ujarnya.

Pastika meminta agar Bali terus berbenah, baik produk pariwisatanya, destinasinya, hotelnya, dan sebagainya. Perlu inovasi menciptakan produk baru dan sebagainya.

"Sebab bila tidak, suatu saat, cepat atau lambat Bali akan ditinggalkan," ujar Gubernur.

Kebijakan pusat menggarap sejumlah destinasi pariwisata di Indonesia yang dikenal dengan ikon 'Bali Baru' juga mendapat perhatian Pastika.

Meski secara umum kebijakan itu bukan lah bermaksud untuk menyaingi Pulau Dewata sebagai koridor utama pariwisata Indonesia, setidaknya Bali mesti menyikapi hal ini secara serius.

Pastika ingin sektor pariwisata Bali tetap eksis dan secara ekonomis mampu memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Terkait dengan harapan tersebut, dalam berbagai kesempatan Gubernur selalu mengingatkan agar pelaku pariwisata lebih menyadari perubahan situasi sehingga dapat mengambil langkah antisipasi untuk menghadapi semakin ketatnya persaingan. Jika tidak peka, dia khawatir suatu saat nanti Bali akan tertinggal.

Ia meminta agar para pelaku pariwisata Bali untuk tidak tinggal diam. Pemerintah juga telah mengambil sejumlah langkah dan kebijakan strategis.
Beberapa waktu yang lalu misalnya, Pastika menggelar simakrama yang diformat dalam acara sarasehan bertajuk pariwisata. Sejumlah praktisi dan pelaku pariwisata yang hadir memberi pandangan mereka terkait upaya untuk menghadapi
persaingan.

Mereka sepakat bahwa Bali harus tetap konsiten dan lebih serius menggarap pariwisata berkualitas agar mampu memenangi persaingan. Bicara soal quality tourism, sejatinya hal tersebut telah menjadi pemikiran Pastika sejak awal pelaksanaan program Bali Mandara yang saat ini telah memasuki Jilid II, tahun ke-9.

Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri) merupakan sebuah program yang secara tidak langsung berkaitan dengan upaya mewujudkan pariwisata yang berkualitas. Sebab, selain sebagai upaya penguatan sektor pertanian, program ini juga bertujuan mewujudkan Bali sebagai pulau organik.

Bila hal ini dapat diwujudkan, secara otomatis nilai jual dan citra Bali akan terangkat dengan sendirinya. Dampak positif lainnya, Pulau Dewata itu juga akan lebih banyak didatangi wisatawan berkualitas dan berduit.

Lebih dari itu, dilaksanakan pula program Bali Green Province yang bertujuan mewujudkan Bali sebagai pulau bersih dan hijau. Sejalan dengan itu, Pemprov Bali melalui Dinas Pariwisata terus berupaya melakukan berbagai terobosan.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Anak Agung Gede Yuniartha Putra, menyebut, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali terus mengalami peningkatan. Pada 2010, wisman yang datang sebanyak 2.493.058 orang, selanjutnya pada 2011 dan 2012 meningkat menjadi 2.756.579 dan 2.892.019.
Jumlah tersebut kian meningkat pada tiga tahun berikutnya. Bali kedatangan 3.278.598 wisatawan pada 2013 dan bertambah menjadi 3.766.638 wisman di 2014. Sedangkan pada 2015 dan 2016, wisman yang datang ke Pulau Dewata dalam kurun waktu dua tahun terakhir mencapai 4,001 juta dan 4,92 juta orang wisatawan.
"Dengan kata lain, pada 2016 kunjungan wisman mengalami peningkatan 23,14% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya," ucapnya.

Bila melihat data tersebut, sejauh ini, Bali masih menjadi destinasi favorit wisatawan dari berbagai belahan dunia. Namun ada kecenderungan lain yang perlu dicermati pelaku pariwisata yaitu rata-rata lama tinggal.

Menyitir data yang disajikan Kementerian Pariwisata, lama tinggal wisman di Pulau Dewata tercatat rata-rata masih berkisar 10,8 hari.

"Perhitungannya didasarkan pada waktu kedatangan dan keberangkatan wisatawan di pintu masuk Bali," terangnya.

Namun jika dikombinasikan dengan data Badan Pusat Statistik yang menyebut kalau lama tamu menginap di hotel berbintang di Bali saat ini rata-rata hanya mencapai 3-4 hari, ada selisih dengan length of stay yang dicatat oleh Kemenpar.

Sejumlah asumsi berkembang terkait dengan adanya selisih data tersebut antara lain yang menyebut kalau sebagian wisatawan memanfaatkan waktu untuk berwisata ke daerah tetangga Bali, seperti Lombok dan sekitarnya.

"Atau bisa jadi mereka menginap di vila dalam sisa liburannya di Bali. Ini yang masih kita dalami," dia menambahkan.

Menurutnya, hal ini perlu mendapat perhatian karena akan berpengaruh pada sumbangsih sektor pariwisata bagi pertumbuhan ekonomi mengingat wisatawan lebih sedikit membelanjakan uang mereka di Bali. Timbul pula pertanyaan, apakah daerah lain menawarkan sesuatu yang lebih menarik sehingga para wisatawan menghabiskan lebih banyak waktu mereka untuk berlibur di sana.

Pemprov Bali menaruh perhatian serius dalam menyikapi situasi ini. Dinas Pariwisata telah menempuh sejumlah langkah untuk mempertahankan daya tarik Bali. Langkah tersebut antara lain memperbanyak even pariwisata.

Tahun ini, sedikitnya dilaksanakan 62 even untuk mendongkrak pesona pariwisata Bali. Selain itu, Pemprov juga terus berupaya meningkatkan kualitas destinasi pariwisata.

"Upaya ini kita tempuh melalui pelaksanaan Bimbingan Teknis bagi pengelola Daerah Tujuan Wisata (DTW)," ujarnya.

Sejalan dengan itu, program promosi juga terus diintensifkan. "Kita tak boleh lengah. Kami berkomitmen untuk terus berbenah dengan tetap konsisten pada pengembangan pariwitasa budaya," tandasnya.

Dalam kaitannya dengan upaya promosi, belakangan pihaknya serius menggarap potensi wisatawan sejumlah negara yang warganya makin banyak pelesiran ke luar negeri. China menjadi salah satu target utama promosi karena dalam setahunnya tercatat 110 juta warganya berwisata ke berbagai destinasi wisata di seluruh dunia.

"Kalau saja 10% dari jumlah tersebut bisa kita tarik ke Bali, itu akan berpengaruh signifikan bagi peningkatan jumlah kunjungan," imbuhnya.

Selain itu, pascapelesiran Raja Arab Saudi ke Bali, Dinas Pariwisata juga melirik potensi wisatawan negara Timur Tengah yang selama ini belum menjadi target promosi. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya