Batang Jadi Tempat Uji Coba Kartu Tani

MI/HARYANTO
05/3/2015 00:00
Batang Jadi Tempat Uji Coba Kartu Tani
(ANTARA/YUSUF NUGROHO)
PARA petani di Desa Lebo, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menerima kartu tani yang diserahkan langsung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, kemarin.

Kartu tani sebanyak 300 lembar itu digunakan untuk membeli pupuk bersubsidi. Dalam pertemuan dengan para petani, Ganjar menjelaskan ide kartu tani itu berawal dari seringnya petani kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi setiap kali memasuki musim tanam.

"Yang namanya barang subsidi, jualnya tidak boleh bebas. Harus terbatas dan bersistem. Maka kita kembangkan kartu tani," kata Ganjar di sela-sela peresmian kartu tani di Batang, kemarin.

Lebih lanjut Ganjar mengatakan petani yang mendapatkan kartu tani otomatis mendapatkan rekening tabungan di BRI. Kartu itu akan berfungsi sebagai kartu ATM sehingga petani saat akan membeli pupuk harus membawa kartu tersebut.

"Dengan kartu tani, petani akan membeli pupuk sesuai kebutuhannya sekaligus sebagai kontrol distribusi pupuk agar tidak disalahgunakan," terang Ganjar didampingi Direktur BRI, Djarot Kusumayakti.

Pada kesempatan itu Djarot menambahkan kartu tani tersebut akan mengontrol distribusi pupuk dengan prinsip enam tepat yakni tepat jumlah, jenis, waktu, mutu dan harga. "BRI mengembangkan sistem real online sehingga distribusi pupuk bisa dimonitor kapan saja. Kalau subsidi tepat sasaran, saya yakin hasil produksi meningkat," kata Djarot.

Meski demikian Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo yang ikut hadir dalam acara tersebut mengakui pelaksanaan kartu tani di lapangan tidak mudah. Ia khawatir kartu tersebut gagal seperti 2008 lalu.

Harga beras mahal
Pada bagian lain, harga beras di sejumlah daerah masih tinggi lantaran belum memasuki masa panen. Sejumlah daerah di Jawa Timur seperti Kabupaten Tuban, Bojonegoro, dan Lamongan yang dikenal sebagai lumbung pangan belum menggelar operasi pasar untuk mengendalikan harga beras yang masih mahal. Saat ini harga beras di wilayah tersebut masih berkisar Rp12.500 per kg.

Hal sama juga dikhawatirkan masyarakat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Harga beras yang didatangkan dari luar Pulau Jawa sebelumnya Rp12 ribu per liter kini menjadi Rp16 ribu per liter. Adapun, beras lokal jenis matang dari harga Rp17 ribu menjadi Rp19 ribu per liter.

Naiknya harga beras juga dikhawatirkan enam kepala daerah di Priangan Timur, Jawa Barat, meliputi Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Banjar, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Pangandaran.

Menurut Wali Kota Banjar, Ade Uu Sukaesih, apabila inflasi dibiarkan akan berdampak bahaya bagi masyarakat di wilayah Priangan Timur.

Kepala Kantor Bank Indonesia, Cabang Tasikmalaya, Wahyu Purnama pada kesempatan itu mengatakan ada dugaan permainan dari pengelola pasar di bidang industri ekonomi daerah. "Kini untuk Priangan, inflasi mencapai 58,4%. Provinsi Jabar 54,6% dan pusat mencapai 6,29%," jelasnya.

Selain beras, harga kebutuhan pokok lainnya juga ikut naik seperti cabai. Harga cabai rawit di wilayah pantura Jawa Tengah dari Rp23 ribu-Rp25 ribu per kg menjadi Rp38 ribu-Rp40 ribu per kg.

Kemudian harga cabai merah dari Rp10 ribu per kg menjadi Rp12 ribu per kg. Alasannya dipicu naiknya harga bahan bakar minyak dari Rp6.700 menjadi Rp6.900 per liter dan belum memasuki masa panen. (YK/AD/SS/AS/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya