Grebeg Syawal, Kegaduhan yang Dinanti

Ferdinand
28/6/2017 08:06
Grebeg Syawal, Kegaduhan yang Dinanti
(Warga dengan penuh antusias berebut isi gunungan pada acara Grebeg Syawal yang digelar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di halaman Mesjid Agung Surakarta---MI/Ferdinand)

WAJAH Lia, 55 tampak berseri-seri. Perjuangan perempuan kelahiran Solo yang baru mudik dari Kota Medan itu tidak sia-sia. Pada acara Grebeg Syawal yang digelar Keraton Kasunanan Surakarta di halaman Mesjid Agung setempat, Selasa (27/6), Lia berhasil memperoleh 'berkah' sang Raja.

Dengan senyum mengembang, Lia menunjukkan perolehannya. Ada dua buah wortel, tiga helai kacang panjang, cabai, dan klenyem (makanan yang terbuat dari singkong). Sayuran dan makanan itu didapatkan Lia setelah berjibaku berebut gunungan dengan pengunjung yang lain.

"Ini pertanda baik bagi saya dan keluarga. Empat hari lagi saya akan menikahkan anak saya, semoga lancar," katanya.

Lain halnya dengan Supatmi, 60, asal Cepogo, Kabupaten Boyolali. Perempuan yang bermatapencaharian utama sebagai petani itu tidak hanya mengambil sayuran dan makanan, tetapi juga bambu yang digunakan untuk melekatkan makanan pada gunungan.

"Bambu ini untuk ditaruh di ladang, supaya hasilnya (panen) bagus," katanya tersipu.

Selain Lia dan Patmi, ada ratusan warga lain yang datang dengan tujuan sama. Ngalap berkah dari hajad Dalem (sedekah) Raja yang diwujudkan melalui gunungan jaler (laki-laki) dan gunungan estri (wanita). Dua gunungan tersebut juga merupakan pengejawantahan falsafah Jawa kuno, lingga dan yoni yang bermakna kesuburan dan kemakmuran.

Gunungan jaler terdiri dari berbagai hasil bumi, seperti kacang panjang, wortel, cabai besar, telor asin, dan klenyem dengan bagian bawah berisi tumpeng nasi putih berikut lauk pauknya. Sedang, gunungan estri terdiri dari rangkaian rengginang mentah dengan bagian bawah berisi nasi dengan lauk pauknya.

Prosesi grebeg Syawal diawali dengan keluarnya gunungan dari dalam Keraton. Gunungan itu di pikul oleh para abdi dalem. Dengan pengawalan prajurit dan iringan musik khas yang dimainkan korps musik gunungan itu kemudian dibawa menuju Mesjid Agung untuk didoakan.

Kedatangan gunungan itu sudah disambut ratusan warga. Mereka tidak hanya datang dari Kota Surakarta, tetapi juga dari daerah disekitarnya. Di antara mereka bahkan ada yang rela datang dan menunggu sejak pagi hari, padahal Grebeg Syawal baru dimulai pada pukul 10.30 WIB.

Prajurit Keraton dibantu aparat kepolisan harus memberikan pengamanan ekstra pada gunungan jaler dan estri. Tingginya antusiasme warga seringkali membuat jalannya prosesi terganggu. Sering kali sebelum selesai didoakan warga yang tidak sabar sudah menyerbu, dan berebut mengambil isi gunungan.

Namun, prosesi Grebeg Syawal 1438 Hijriyah kemarin berlangsung cukup tertib. Warga sabar menunggu hingga ulama Keraton selesai memanjatkan doa. Dan, seperti sudah bisa diterka begitu selesai didoakan warga langsung menyerbu gunungan jaler dan meludeskan semua isinya dalam hitungan menit.

Sementara gunungan estri dibawa kembali ke Keraton untuk diperebutkan oleh warga dan abdidalem yang menanti di sana. Menurut sejumlah referensi, tradisi Grebeg Syawal telah dilaksanakan sejak jaman Kerajaan Mataram pada masa kepemimpinan Sultan Agung, dan tetap dilestarikan oleh Keraton Surakarta dan Keraton Jogyakarta sampai saat ini.

Gunungan sendiri merupakan simbol rasa syukur Raja beserta keluarga, dan abdidalem karena sudah berhasil menjalankan ibadan puasa Ramadan sekaligus menyambut datangnya bulan Syawal.

Grebeg sendiri berasal dari Bahasa Jawa gumerebeg yang berarti kegaduhan. Ini dikarenakan dalam prosesi itu selalu diakhiri rebutan isi gunungan. Saling dorong, saling teriak, dan suara tawa luapan kegembiraan selalu mewarnai puncak tradisi itu. Sebuah tradisi luhur yang selalu dinantikan setiap Idul Fitri.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya