KEBAKARAN hutan dan lahan di Riau menyebabkan jarak pandang di Kota Bengkalis dan sekitarnya hanya berkisar 500 meter. Kebakaran hutan dan lahan menyebabkan kabut asap menyelimuti Kota Bengkalis, Pakning dan Selatbaru.
"Kabut asap yang terjadi pada Rabu (4/3) lebih tebal dibandingkan Selasa (2/3)," kata Kepala Bidang Pemadam Kebakaran (Damkar) BPBD Bengkalis, Suiswantoro di Pekanbaru, kemarin.
Menurutnya kabut asap tersebut merupakan kiriman dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah kecamatan di Bengkalis seperti Siak Kecil, Bukit Batu dan diperparah kiriman kabut asap dari Kabupaten Kepulauan Meranti, yang telah berlangsung selama empat hari.
Dia memperkirakan kabut asap kemungkinan masih akan terjadi pada hari ini karena titik api baru terus bermunculan di Kabupaten Bengkalis.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengeluarkan data dari hasil pantauan satelit Terra dan Aqua terdeteksi 86 titik panas yang menjadi indikasi kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau.
"Data terbaru pada 4 Maret pada pukul 07.00 Wib menunjukkan secara keseluruhan di Pulau Sumatra ditemukan 96 titik api. Terbanyak berada di Riau dengan jumlah 86 titik," kata Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, Sugarin.
BPBD Kabupaten Bengkalis telah membagikan 10 ribu masker kepada masyarakat dalam dua hari terakhir.
"Masker dibagikan kepada masyarakat di Kecamatan Bantan, Bengkalis, Bukit Baru dan Siak Kecil yang terkena dampak kabut asap," terang Suiswantoro.
Masker-masker tersebut dibagikan kepada para pengguna kendaraan sepeda motor dan pejalan kaki. Pihaknya akan tetap membagikan masker selama kabut asap masih menyelimuti Bengkalis.
Polusi asap akibat kebakaran lahan dan hutan di wilayah utara Provinsi Riau itu mengakibatkan kualitas udara dalam status berbahaya.
Berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup Provinsi Riau di Posko Siaga Darurat Kebakaran di Kota Pekanbaru, alat pemantau partikel PM10 menyatakan Indeks Standar Pencemar Udara pada Rabu (4/3) mencapai angka 330, yang berarti kualitas udara sudah tercemar dan berbahaya.
Kondisi asap pekat di Bengkalis mulai dikeluhkan warga, terutama masyarakat di perairan karena asap bercampur dengan embun.
"Meski memakai helm saat berkendara, asap tebal masih bisa masuk dan membuat mata saya pedih," keluh Monalisa, warga Bengkalis.
Kerja sama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar mengapresiasi kerja sama yang terjalin antara koorporasi, aparat pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
"Kerja sama koorporasi seperti di Riau dengan pasukan manggala agni, aparatur di daerah dan masyarakat untuk pengendalian kebakaran semakin baik," kata Siti Nurbaya di sela-sela rapat kerja kementeriannya di Jakarta, kemarin.
Dia meminta agar setiap perusahaan harus mempunyai peralatan dan SDM yang memadai untuk mengatasi kebakaran. Siti menambahkan berdasarkan prediksi BMKG, iklim Indonesia akan dipengaruhi el nino lemah sampai Juni mendatang.
Dampaknya intensitas dan frekuensi hujan lebih rendah dibanding tahun lalu. Sejumlah provinsi yang masuk daftar prioritas pengendalian kebakaran yakni Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Riau. (Ant/N-4)