Menunggu Kepastian di Kolong Rel

MI
02/3/2015 00:00
Menunggu Kepastian di Kolong Rel
(MI/Arya Manggala)
SUDAH sepekan, Junan, 63, harus tinggal berdesak-desakan di bawah jalur rel layang di samping Stasiun Sawah Besar, Jakarta Pusat. Ia bersama ribuan warga lainnya ialah korban kebakaran yang terjadi di Jalan D RW 01, Karang Anyar, Sawah Besar, Senin (23/2).

Sampai kemarin, kendati sebagian sudah meninggalkan lokasi pengungsian, ratusan orang masih tinggal di atas lahan aspal seluas 100 meter persegi dengan atap jalur hilir mudik kereta itu. Bercampur dengan barang-barang yang berserak, mereka terus dibalut ketidakpastian.

Junan bersama sembilan anggota keluarganya mesti bersabar, entah sampai kapan. ''Belum tahu di sini sampai kapan. Dari aparat belum ada kabar apa-apa. Sebenarnya warga sudah capai tinggal di sini,'' ucapnya.

Junan masih merasa bersyukur meski selama di penampungan hanya tidur di atas tikar dan terpal serta makan dengan menu seadanya. Hanya saja, perasaannya pedih tak terhingga jika hujan turun. Jalur rel sebagai 'atap' tak mampu melindunginya dari guyuran hujan.

''Malam Jumat kemarin kita kehujanan. Jadinya pada berdiri sampai subuh. Baru bisa tidur giliran setelah hujan sudah berhenti.''

Banyaknya pengungsi yang tak sebanding dengan kapasitas tempat pengungsian, membuat lokasi penuh sesak. Nunu Wisnu, 67, pengungsi lain mengatakan, kondisi seperti itu amat menyiksa, terutama bagi anak-anak.

''Di sini kalau malam enggak dingin, justru gerah karena banyaknya pengungsi. Anak-anak sering nangis,'' ujarnya.

Tidak satu pun barang yang bisa diselamatkan Nunu dari rumahnya yang dilalap api selain pakaian yang melekat di badan. Cucu-cucunya pun sudah seminggu ini tak bersekolah.

Junan dan pengungsi lainnya jelas tak ingin terus berada di penampungan seada-nya itu. Mereka berharap bantuan untuk perbaikan rumah secepatnya datang.

''Rumah saya nyaris rata dengan tanah. Belum tahu kapan bisa dibangun lagi,'' tuturnya.

Akibat amukan api, tercatat 1.390 jiwa dari 448 kepala keluarga di 10 RT di Kelurahan Karang Anyar menjadi korban. Ketua RW 01, Junaedi, memaparkan bantuan seperti selimut, seragam sekolah, susu, air bersih, perlengkapan bayi, dan makanan berdatangan dari berbagai kalangan.

Namun, donasi itu hanya bersifat sesaat. Korban terus menunggu bantuan perbaik-an rumah sehingga mereka bisa kembali menjalani kehidupan normal.(DA/X-9)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya