Pengantar: BUKAN hanya anggota DPR suka nyambi. Perempuan-perempuan cantik yang sedang merintis masa depan lewat berbagai profesi pun bersedia disambi asalkan ketemu harga. Siapa saja perempuan muda cantik itu, disajikan dalam tulisan bersambung mulai Senin (2/3) hingga Minggu (8/3). Ini merupakan tulisan ke tiga.
-----------------------
DI Kota Madya Batam yang tergabung dalam Provinsi Kepulauan Riau tersaji berbagai kelas tempat hiburan. Begitu pula para wanita penghibur. Kalangan bawah, misalnya, bisa mengajak kencan perempuan bertarif Rp300 ribu untuk short time. Bila ingin mendapatkan wanita penghibur berparas lumayan, harus rela merogoh kocek Rp600 ribu hingga Rp700 ribu untuk kencan selama satu jam.
Sangat mudah menemukan para wanita penghibur. Cukup meminta jasa pengojek sepeda motor dengan imbalan Rp50 ribu, tak sampai setengah jam pintu kamar hotel akan diketuk. Kalangan kelas menengah biasanya lebih selektif memilih teman kencan. Mereka rela membayar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. Lewat jasa seorang germo yang biasa dipanggil mami atau papi, perempuan berkelas itu akan datang menemani selama satu jam.
Di hotel-hotel berbintang, dengan imbalan uang tips, room boy dan petugas sekuriti akan dengan senang hati menghubungkan tamu yang mencari layanan plus-plus. Perempuan penghibur kelas atas juga mudah menemukannya. Tarif mereka terbilang tinggi. Untuk kencan short time, mereka meminta bayaran Rp2,5 juta. Bila tamu ingin lanjut, tarif long time yang akan berlaku, yakni Rp5 juta.
Chacha, berusia 20 tahun, melakoni profesi sampingan sebagai wanita panggilan high class dalam satu tahun terakhir. Sehari-hari perempuan berdarah Palembang-Sunda itu berprofesi sebagai model amatir untuk pemotretan sampul, kalendar, dan majalah remaja.
Bila tidak ada pemotretan, Chacha menerima tawaran check in. Namun tidak sembarang tamu bisa mengajaknya berkencan. "Saya milih-milih tamu Bang. Kalau tidak sreg, pasti saya tolak," ujar Chacha saat berbincang di sebuah restoran hotel bintang empat di kawasan Penuin.
Sebelum menerima ajakan tamu, terlebih dahulu dia meminta bertemu sambil makan siang bersama. Saat pertemuan itulah Chacha mempelajari karakter pria yang akan membokingnya. Jika cocok, pertemuan akan berlanjut malam harinya ke kamar hotel. Sebaliknya, bila kata hatinya menolak, pertemuan selesai di situ saja.
Chacha yang mengantongi ijazah modeling dari sebuah sekolah model di Jakarta, hanya menerima tawaran kencan dari pria Indonesia berusia 45 tahun ke atas. "Kalau sama om-om lebih enak. Mereka tidak pelit. Kalau sama anak muda, sudah maunya banyak, uang tips-nya pun tak ada," cetusnya.
Chacha tampak anggun dalam balutan busana mini skirt. Mini skirt merupakan rok dengan batas 10 cm di atas lutut. Sambil membetulkan posisi duduknya sehingga terlihat jelas kulit kakinya yang putih bersih, ia menuturkan bukan hanya tamu anak muda yang ditolak.
Tawaran kencan warga asing pun tak pernah digubris. Ia trauma karena beberapa kali teman-temannya mengeluhkan kekasaran orang asing, apakah itu bule atau pengunjung dari Singapura dan Malaysia. Mereka juga pelit dalam memberi tips. Chacha menjadi antipati.
Sejauh ini dengan tamu dari kalangan pejabat dan pengusaha Indonesia, ia merasa senang dan tak pernah kekurangan uang. Pejabat dan pengusaha Indonesia royal menebar tips. Asal mereka puas, uang bukan masalah.
Chacha yang berambut panjang sangat menjaga keindahan tubuhnya. Seminggu sekali dia mengunjungi spa khusus wanita untuk luluran dalam mempertahankan kehalusan dan kesehatan kulit tubuhnya. Dua kali dalam seminggu ia merawat rambut di salon-salon ternama. Tidak hanya itu, dia juga menjalankan program diet dan rutin senam aerobik.
Cukup besar dana yang dia butuhkan untuk perawatan tubuh. Semua itu dilakukan untuk menggapai cita-citanya menjadi foto model terkenal."Biaya perawatan kecantikan saya lumayan mahal loh Bang. Sebulan bisa Rp5 juta sampai Rp7 juta. Saya terima tamu untuk membiayai itu semua. Kalau sudah cukup, saya tidak terima tamu," tukasnya. (*/T-1) (Bersambung)