Inovasi Sektor Pertanian Dinilai Penting di Tengah Keterbatasan Lahan Perkotaan

Indrastuti
24/4/2026 21:59
Inovasi Sektor Pertanian Dinilai Penting di Tengah Keterbatasan Lahan Perkotaan
Ilustrasi(Dok Istimewa)

INOVASI sektor pertanian dinilai penting di tengah keterbatasan lahan perkotaan. Salah satunya butuh solusi teknologi berbasis pengetahuan. "Kita menghadapi tantangan sektor pertanian yang kecil, maka solusinya teknologi berbasis pengetahuan. Dengan UPT Pembibitan, kita mencetak bibit unggul sekaligus sarana edukasi masyarakat. Dengan dukungan alat pertanian gratis dan penguatan aspek sosial ekonomi, kita membawa KWT (Kelompok Wanuita Tani) dari zero menjadi hero demi Tangerang mandiri pangan," ungkap Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang Muhdorun pada kegiatan edukatif bagi para penggerak pangan lokal, di Karawaci, Kota Tangerang, Jumat (24/4/2026).

Kegiatan edukatif ini diselenggarakan tim pengabdian kepada masyarakat (PKM) Universitas Mercu Buana sebagai wujud nyata Tridarma Perguruan Tinggi, yang dihadiri oleh perwakilan 35 KWT se-Kota Tangerang.

Pada kegiatan bertema Penguatan KWT Kota Tangerang Menuju Ketahanan Pangan Adaptif dan Berkelanjutan ini, Ketua Pelaksana Rona T M C Simorangkir menekankan pentingnya sinergi akademisi dan praktisi lapangan untuk mendukung program Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang.
Ia berharap sinergi antara Universitas Mercu Buana dan Dinas Ketahanan Pangan dapat terus berlanjut.

"Dengan penguatan literasi bisnis dan operasional ini, kami harap KWT mampu menjadi penggerak ekonomi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab agar ketahanan pangan di Kota Tangerang terwujud berkelanjutan."

Pada kegiatan tersebut, dipaparkan sejumlah materi. Di antaranya, sesi materi keuangan oleh Syafrizal Chan yang memaparkan strategi pemasaran berkelanjutan yang berfokus pada profitabilitas jangka panjang.
"Kunci bisnis sehat adalah konsistensi dalam menghasilkan keuntungan. Berwirausaha harus memberikan manfaat ekonomi yang terus-menerus agar usaha KWT tidak berhenti di tengah jalan," jelasnya.

Pembicara lain, Alvita Sari, menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah produk. Alvita juga mendorong anggota KWT mengubah citra hasil panen menjadi produk healthy lifestyle yang berkualitas.

"Penentuan harga harus berbasis pada manfaat, misalnya melalui paket mingguan atau paket hemat, sehingga produk KWT berdaya saing tinggi di mata pelanggan," tambah Alvita.

Melengkapi perspektif digital, Agung Hudayana memaparkan pentingnya strategi media sosial bagi KWT. Menurutnya, di era digital pemasaran tidak lagi terbatas secara fisik.

"Kita harus cerdas memanfaatkan jam operasional media sosial. Waktu santai seperti jam 11 atau 12 siang bagi ibu-ibu, serta waktu sebelum tidur, adalah momentum tepat untuk mengunggah produk agar mendapatkan perhatian maksimal dari calon pembeli," jelasnya.

Sesi kedua dilanjutkan dengan pendalaman manajemen keuangan. Indraguna Kusumabrata menekankan pentingnya pencatatan Harga Pokok Penjualan (HPP) secara akumulatif. Menurutnya, ketelitian dalam mencatat biaya adalah fondasi agar usaha tak mengalami kerugian yang tidak terdeteksi.
Selanjutnya, Mohamad Torik Langlang Buana membawa perspektif syariah dalam bisnis. "Pemanfaatan tanah melalui konsep syariah adalah bentuk keyakinan yang membawa kebaikan ekonomi," katanya.

Rona T M C Simorangkir memberikan solusi praktis melalui digitalisasi keuangan. Ia memperkenalkan aplikasi pembukuan berbasis handphone (Randu) agar anggota KWT disiplin memisahkan uang usaha dan uang dapur. Sementara itu, Mulyana Chandra Hadiati, menutup sesi keuangan dengan penjelasan mengenai Break Even Point (BEP). Pemaparannya berisi cara membagi biaya tetap dan variabel sehingga KWT mengetahui titik impas produksi dan kapan usaha mereka mulai menghasilkan keuntungan nyata.

Sesi berikutnya adalah sumber daya manusia yang dibawakan Lisnatiawati Saragih. Ia memfokuskan pentingnya peningkatan kapasitas tata kelola organisasi. Menurutnya, kemandirian ekonomi KWT dapat terwujud jika pengurus bersedia berbagi ilmu dengan para anggota guna meningkatkan kepercayaan diri dan loyalitas tim.

Sementara itu, Merdiyanti Rika Kusuma membahas pentingnya transformasi lewat kepemimpinan dan komunikasi efektif. "Leadership adalah fondasi membangun struktur kelompok profesional layaknya UMKM agar kualitas produk merata dan memiliki daya tawar tinggi di pasar," terangnya.

Pemateri terakhir, Muhammad Nashar memaparkan strategi optimalisasi operasional di lahan terbatas melalui teknologi modern. "Ketahanan pangan bukan soal luas lahan, tapi cara meningkatkan produktivitas lewat efisiensi manajemen operasional yang tepat," ujarnya.

Menurutnya, penerapan sistem operasional seperti hidroponik, vertical farming, dan irigasi tetes merupakan solusi nyata untuk menghemat air serta mengontrol kualitas hasil panen secara mandiri. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya