Warga Rawa Buaya Cengkareng Keluhkan Air PAM Bau dan Keruh

Irvan Sihombing
14/4/2026 20:46
Warga Rawa Buaya Cengkareng Keluhkan Air PAM Bau dan Keruh
Nurliana Sihombing (61), warga di Jalan H. Djairi, RT 05 RW 02, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, mengeluhkan krisis air bersih, Selasa (14/4/2026). ANTARA/Dokumentasi Pribadi(ANTARA/Dokumentasi Pribadi)

WARGA di Jalan H. Djairi, RT 05 RW 02, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat kembali mengeluhkan krisis air bersih yang tak kunjung teratasi. Selama puluhan tahun, aliran air PAM di wilayah tersebut kerap tidak mengalir, berubah keruh, hingga berbau menyengat, sehingga memaksa warga menampung air pada tengah malam demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah seorang warga, Nurliana Sihombing (61), mengaku masalah ini sudah dirasakan sejak pertama kali berlangganan air PAM sekitar 25 tahun lalu.

"Ya enggak belakangan (terjadi krisis air bersih), dari dulu. Kita pertama kali pasang kan bagus tuh, bening. Enggak berapa bulan, enggak keluar sama sekali, sampai sekarang selalu begitu. Nah, ke sini-ke sini, airnya kadang kayak susu, kadang kayak kopi warnanya, bau banget. Kayak bau got," ujar Nurliana kepada wartawan di lokasi, Selasa.

Air Bersih Hanya Mengalir Tengah Malam

Ia mengungkapkan keanehan aliran air yang justru kembali normal hanya pada waktu tertentu, yakni tengah malam hingga dini hari.

"Herannya kita kenapa malam bagus banget airnya. Sekitar pukul 01.00 WIB hingga sampai pukul 04.30 WIB itu selalu bagus, setiap hari. Tapi kadang mau subuh itu juga udah bau airnya, sudah bau busuk," keluhnya.

Kondisi tersebut memaksanya untuk bangun pada dini hari demi menampung air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Rumahnya dipenuhi ember yang digunakan sebagai penampungan air.

"Iya, kita bangun jam dua, jam tiga malam gitu buat ngisi air. Jadi kita sudah punya penampungan kayak ember berapa biji gitu. Terpaksa, habis kalau enggak begitu, enggak punya air bersih," kata dia.

Jika persediaan air tidak mencukupi pada siang hari, ia terpaksa menunda mandi atau hanya mandi sekali sehari. Padahal, ia mengaku rutin membayar tagihan air setiap bulan sekitar Rp50 ribu.

"Masalahnya tuh sebenarnya enggak bayar itu doang, tapi kan bayar listrik juga. Karena air di sini enggak bisa ngalir kalau enggak pakai mesin pompa, jadi nambah lagi tagihan listriknya," tuturnya.

Ketua RT 05/RW 02 Rawa Buaya, Eka, menyebut persoalan air PAM di wilayahnya sudah berlangsung lama dan belum menemukan solusi permanen.

Sebagian warga bahkan memutuskan kembali menggunakan air tanah melalui pengeboran, meskipun kualitasnya tidak selalu baik.

"Pas hidupin air PAM, dapat seember dua ember bagus kan airnya. Namun, setelah ditampung lagi tahu-tahu airnya sudah tercampur sama yang kotor, jadi bau semua gitu," katanya.

Ia juga mengaku pernah mengalami kerugian saat menampung air di toren berkapasitas 500 liter di lantai empat rumahnya.

"Itu tengah malam buka kran biar nampung di toren, eh pas dibuka, Ya Allah kok hitam, bau got. Mana hampir penuh itu, tingginya seleher saya, masa mau dikuras, gimana? Padahal udah kehitung di meteran itu airnya," ucapnya.

Setelah kejadian tersebut, Eka memutuskan memutus sambungan air PAM dan beralih ke air tanah meski harus mengeluarkan biaya tambahan.

Keluhan Sudah Sering Disampaikan

Eka menjelaskan warga telah berulang kali menyampaikan keluhan kepada petugas, termasuk saat pengecekan meteran. Bahkan, kondisi air yang hitam dan berbau kerap terjadi saat petugas berada di lokasi.

"Ditanya kenapa alasannya, 'Mungkin ada kebocoran pas betulin jalan atau bagaimana' begitu jawabannya. Tapi, sampai sekarang enggak benar-benar. Cuma sering dikontrol di depan sana tuh, sering dibongkar-bongkar tapi tetap saja masih (kotor)," ungkapnya.

Ia menambahkan, tidak jarang air terlihat bersih saat petugas datang, namun kembali keruh dan berbau pada keesokan harinya. (Ant/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya