Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
LONJAKAN harga kedelai impor hingga 40 persen sejak awal April 2026 membuat perajin tahu dan tempe di Kota Depok, Jawa Barat, tertekan. Kenaikan bahan baku ini berdampak langsung pada biaya produksi dan penurunan omzet para pelaku usaha kecil.
Perajin tahu dan tempe di Kota Depok mengaku tercekik akibat melambungnya harga kedelai impor. Dalam pantauan Sabtu (11/4/2026) sore, harga kedelai tercatat naik dari Rp8.000 menjadi Rp12.000 per kilogram (kg).
Suparto (60), perajin tahu dan tempe di Kelurahan Kelapa Dua, Kecamatan Cimanggis, menyebut harga kedelai kini sudah menembus di atas Rp10.000 per kg. “Harga kedelai sekarang tembus di atas Rp10.000, menyebabkan perajin tahu dan tempe menjerit tak karuan,” ujarnya.
Ia mengaku omzetnya turun hingga 40 persen akibat kenaikan harga bahan baku tersebut. Sebelumnya, harga kedelai impor di pasaran berkisar Rp8.000 hingga Rp9.000 per kg, namun kini mencapai Rp12.000 per kg sehingga biaya produksi semakin membengkak.
Suparto mengaku berada dalam dilema. Ia ingin menaikkan harga jual, tetapi khawatir kehilangan pelanggan. Di sisi lain, berhenti produksi bukan pilihan karena kebutuhan keluarga dan kewajiban membayar sewa tempat tinggal.
“Ini dilema bagi kami pengrajin tahu dan tempe. Sudah harga kedelai naik, harga plastik naik, pengeluaran bertambah dan makin membuat kami pusing. Sementara pendapatan masih tetap karena harga jual sama,” ucapnya.
Ia menduga kenaikan harga kedelai dipengaruhi situasi konflik di Timur Tengah yang memanas pada April 2026 sehingga berdampak pada harga impor.
Untuk bertahan, Suparto terpaksa menyiasati dengan memperkecil ukuran produk tanpa menaikkan harga. “Daripada pelanggan lari ke produsen lain, kita siasati dengan memperkecil ukuran produk. Yang penting masih ada sedikit keuntungan,” tuturnya.
Suparto berharap Pemerintah Kota Depok dapat menyampaikan kondisi ini kepada Kementerian Pertanian agar importir tidak menaikkan harga secara tidak wajar di tengah situasi global serta memastikan ketersediaan pangan tetap aman.
Ia menilai kenaikan harga kedelai berpotensi membuat tahu dan tempe semakin mahal dan sulit dijangkau masyarakat.
Sementara itu, Hesti (30), konsumen di Kelurahan Kelapa Dua, Kecamatan Cimanggis, mengaku merasakan perubahan ukuran tahu dan tempe dalam beberapa hari terakhir.
Meski demikian, ia tidak terlalu keberatan selama harga tidak naik. “Bagi saya, tempe sudah menjadi makanan khas Indonesia turun-temurun yang kaya protein nabati. Yang penting jangan sampai langka dan menghilang. Pemerintah harus peka terhadap kestabilan harga kedelai ini,” ungkapnya. (KG/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved