Uniknya Perkampungan Warga Kembar di Malaka Jaya

Putri Anisa Yuliani
21/10/2016 09:20
Uniknya Perkampungan Warga Kembar di Malaka Jaya
(MI/Adam Dwi)

PERMUKIMAN warga RT 04/RW 03 Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, sepintas terlihat sama saja dengan permukiman padat penduduk lainnya di Ibu Kota.

Namun, bila melintas pada pagi hari ketika seluruh warga mulai beraktivitas, akan terlihat pemandangan unik yang mungkin hanya bisa ditemui di permukiman tersebut. Di perkampungan itu akan terlihat sejumlah warga dengan wajah yang sangat mirip dengan lainnya karena banyaknya warga terlahir kembar. Lantaran banyaknya warga yang kembar, wilayah itu pun dijuluki Kampung Kembar.

Menurut Nunung, 40, seorang warga yang sejak lahir tinggal di Kelurahan Malaka Jaya, warga kembar sudah ada sejak dahulu. Namun, saat itu jumlahnya tidak sebanyak sekarang.

"Sejak dulu ada, tapi cuma satu sampai dua pasang saja. Lama-lama banyak, sampai belasan pasang karena beranak pinak," ujar ibu rumah tangga itu, kemarin (Kamis, 20/10).

Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan pengurus RT dan RW setempat, saat ini jumlah warga kembar di kampung itu tercatat ada 15 pasang. Salah satu pasangan kembar tertua yang lahir dan tinggal di kampung tersebut ialah Pariyah dan Pariyem. "Namun, sekarang tinggal satu orang, karena yang satu sudah meninggal. Usianya 80 tahun," kata Nunung.

Banyaknya warga kembar antara lain disebabkan kerabat warga kembar tinggal dalam satu kawasan sama. Ketika mereka menikah dengan warga lain yang tidak memiliki gen kembar, sebagian keturunannya terlahir kembar.

Sementara itu, sepasang saudara kembar, Aang Suhanah dan Uung Suhainingsih, 63, yang juga tinggal di wilayah tersebut sejak lahir, mengaku turut berkontribusi pada bertambahnya jumlah warga kembar. Uung kini memiliki sepasang cucu kembar perempuan. Sementara itu, Aang memiliki sepasang anak kembar laki-laki.

Uung mengatakan, meski kondisi ekonominya pas-pasan, ia selalu bersyukur kepada Tuhan karena diberi keturunan kembar. Ia dan keluarga tidak merasa susah meski harus membesarkan dan membiayai dua anak berusia sama sekaligus.

Menurutnya, memiliki anak kembar tidak bisa dialami banyak orang. "Karena kami juga, jumlah anak kembar di sini terus bertambah. Kami bersyukur. Orang lain banyak yang berusaha agar bisa punya anak kembar karena lucu dan unik. Sementara itu, kami memiliki gen kembar. Jadi harus disyukuri," tutur Uung.(J-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya