Depresi, Ibu di Cengkareng Mutilasi Anak Kandung

Akmal Fauzi
03/10/2016 12:17
Depresi, Ibu di Cengkareng Mutilasi Anak Kandung
(Ilustrasi)

SEORANG ibu tega memutilasi anak kandungnya yang masih berusia satu tahun. Mutmainah, 28, pelaku mutilasi warga Menceng, Cengkareng Jakarta Barat itu diduga mengalami depresi.

Iin, begitu pelaku disapa, tanpa sebab yang jelas memotong beberapa bagian tubuh anaknya yang bernama Arjuna di rumah kontrakannya Jalan Jaya No 24, RT04/10, Cengkareng. Kejadian itu terungkap pada Minggu (2/10) malam oleh tetangga pelaku.

Warga tak menyangka Iin yang merupakan istri anggota polisi berpangkat Aipda yang bertugas sebagai Provos di Polda Metro Jaya itu tega memutilasi anak kandungnya sendiri hingga tewas.

"Keluarga mereka baik-baik saja. Saya tidak pernah mendengar ribut-ribut. Dia juga sayang banget sama anak-anaknya," ujar Mariam, Senin (3/10).

Iin diketahui memiliki dua orang anak. Selain Arjuna, anak pertama mereka Kalisa masih berusia dua tahun.

Apin, 50, warga yang pertama kali melihat kondisi anak pelaku usai dimutilasi menuturkan, ia sempat mendengar isak tangis anak pelaku pada siang hingga sore hari.

Tak menaruh curiga, Apin memilih diam. Namun saat pukul 20.00, suami pelaku, Deni, pulang dan melihat kondisi pintu rumah kontrakan dalam keadaan terkunci. Ia mencoba memanggil istriya namun tak ada jawaban. Deni kemudian mendobrak pintu.

"Dia (iin) dalam kondisi telanjang. Dia diam aja di atas kasur. Potongan tubuh anaknya di atas piring di depannya,"

Usai melihat kondisi itu, Deni kemudian membawa Kalisa yang dalam kondisi selamat. Kalisa diketahui ikut dipotong pada bagian telinga. Saat ini, Iin yang langsung dibawa petugas ke Polsek Cengkareng sudah ditetapkan sebagai tersangka.

"(Iin) sudah ditetapkan tersangka. Pelaku dijerat dengan pasal 338 KUHP ancaman minimal 10 tahun, kalau ada unsur berencana akan dijerat pasal berlapis," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Awi Setiyono.

Meski begitu, Awi belum mengetahui apakah pelaku melakukan pembunuhan keji itu di luar kesadarannya atau tidak. "Nanti pemeriksaan psikologis yang akan menentukan," tutupnya.

Pun demikian, Awi menjelaskan, pelaku dalam beberapa hari sebelum kejadian kerap berdiam diri. Ia selalu ketakutan dan selalu berhalusinasi melihat hal-hal yang aneh. "Dia terlihat seperti depresi berat. Wajahnya juga sering pucat."

Karena sikapnya itu, semua orang yang berada di sekitarnya takut karena sering diancam akan disakiti. "Bahkan, suaminya pernah diancam," ujar Awi.

Deni sendiri sebenarnya khawatir dan takut akan keselamatan anaknya, sehingga beberapa hari belakangan, iaselalu mengawasi sang istri. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya