Penumpang pesawat Lion Air menunggu kepastian keberangkatan pesawat mereka di apron terminal 3, bandara Soekarno Hatta, Tanggerang, Jumat (20/02)(MI/Sumaryanto)
GELISAH dan bingung menyelimuti perasaan pilot dan awak kabin pesawat Lion Air. Seperti halnya penumpang yang marah dan kesal menunggu kepastian keberangkatan, para kru maskapai milik Rusdi Kirana ini pun cemas menunggu pesawat.
\"Sebenarnya pilot dan awak kabin semua sudah siap terbang, tapi tidak ada pesawat yang mau diterbangkan. Kasihan penumpang, kita juga bisa merasakan marahnya mereka,\" ungkap seorang awak kabin Lion Air kepada Media Indonesia, kemarin.
Awak kabin yang enggan disebutkan namanya ini menceritakan dirinya pada Kamis (19/2) mendapat tugas terbang. Ia bersama rekan awak kabin dan pilot sudah siap sejak pagi, tetapi tidak juga mendapat kepastian.
\"Kita hanya dapat informasi ada tujuh pesawat yang di-grounded (perbaikan) sehingga kita harus menunggu pesawat dari daerah lain, tetapi juga tidak jelas,\" ungkapnya.
Bahkan, tambahnya, para awak pesawat juga tidak tahu harus bertugas di rute penerbangan mana. \"Kita cuma disuruh datang pagi dan menunggu penugasan terbang. Jadi, ya enggak tahu besok mau terbang ke mana,\" keluhnya.
Menurutnya, kekacauan penerbangan ini akibat manajemen memaksakan penjualan tiket sebanyak-banyaknya tanpa mempertimbangkan jumlah pesawat yang beroperasi.
\"Kesannya manajemen itu serakah mengambil banyak penumpang, tapi enggak menghitung ada pesawat rusak. Kasihan penumpang. Kita juga jadi enggak jelas,\" tukasnya.
Keluhan awak kabin ini terbukti saat Media Indonesia berkunjung ke Kantor Lion Air di Jalan Gajah Mada No 7, Jakarta Pusat. Para staf terlihat masih menjual tiket pesawat, tetapi tidak bisa menjamin kepastian berangkat. \"Saya tahunya, ya menjual tiket saja,\" kata petugas Lion Air.
Dana talangan Selang dua hari kacaunya jadwal penerbangan Lion Air ini, akhirnya manajemen Lion Air berbicara kepada publik. \"Lion Air tidak dapat melakukan penerbangan sejak Rabu (18/2), karena ketiga pesawatnya mengalami kerusakan,\" jelas Direktur Umum Lion Air Edward Sirait kepada wartawan, kemarin.
Pernyataan Edward ini berbeda dengan informasi yang diterima dari awak kabin yang mengungkap ada 7 pesawat yang rusak, sedangkan informasi yang diperoleh Komisi V DPR, ada 6 pesawat rusak.
Sebagai upaya menghindari delay dan mengevaluasi krisis, manajemen akhirnya membatalkan seluruh penerbangan kemarin, dimulai pukul 17.00 sampai dengan pukul 00.00 WIB.
Untuk membayar refund tiket penumpang yang telantar, Lion Air pun meminta talangan dari PT Angkasa Pura II. \"Kami sediakan anggaran sekitar Rp3 miliar sampai Rp4 miliar rupiah,\" ungkap Dirut Angkasa Pura II Budi Karya Sumadi, kemarin.
Terjadinya kekacauan penerbangan tersebut, menurut Menteri Perhubungan Ignatius Jonan, membuktikan Lion Air tidak memiliki prosedur operasional standar (SOP) terkait penanganan penumpang di situasi krisis. \"Karena itu kita hentikan izin rute baru Lion Air sampai ada komitmen SOP pelayanan penumpang dengan baik,\" tegasnya di Jakarta, kemarin.
Pengamat penerbangan Chappy Hakim juga berpandangan manajemen Lion Air masih tidak jelas kompetensinya karena keterlambatan sudah sering terjadi.