CUMA butuh dua jam dari Jakarta Barat menuju Lido, Bogor, Jawa Barat.
Berangkat dari kawasan Pluit pukul 05.00 WIB, ketika pagi masih gelap, sebanyak 32 peserta pelatihan jurnalis Muda Antinarkoba tiba pukul 07.00 WIB.
Bahkan, ketika gerbang Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) belum dibuka pada Minggu (7/6).
Bekal pelatihan di hari sebelumnya membuat mereka bersemangat mengisi aktivitas dengan melakukan aneka gim.
Ya, mesti bersemangat dong! Karena mereka ialah yang terbaik dari 1.000 siswa SMA se-Jabodetabek yang mengirimkan tulisan mengenai bahaya narkoba.
Mereka yang tulisannya paling bagus itu mendapat pelatihan menulis dan berlatih meliput langsung ke pusat rehabilitasi narkoba terbesar di Indonesia itu.
Meliput langsung
Berbagai perasaan muncul ketika sampai di Lido, sebagian mengaku merasa gentar dengan citra kelabu tempat ini.
''Saya sempat terkejut, kok sampai bisa diajak ke sini, saya bahkan sempat takut,'' kata Nurul, siswa SMA Negeri 86 Jakarta.
Jika Nurul dan para sobat Muda saja sudah takut, apalagi yang akan tinggal empat bulan di sini ya!
Di sesi pertama, kami bertemu Fredy Hartono. Lelaki yang akrab dipanggil Bro Fredy ini mengaku sempat ketakutan ketika sempat didatangi petugas yang akan membawanya direhabilitasi.
''Dulu ketika pertama kali dijemput petugas BNN, saya menolak bahkan sampai membawa golok agar mereka menjauh,'' kata Fredy, mantan residen, alias penghuni rehabilitasi yang kini menjadi konsuler di sana.
Penolakan itu, kata Sholikhun, Kepala Seksi Penunjang Rehabilitasi Sosial, disebabkan minimnya informasi yang mereka terima tentang pusat rehabilitasi.
''Mungkin mereka pikir ini hanya penjara yang akan mengekang mereka dalam sel. Padahal, ini adalah tempat terbaik bagi pecandu. Di sini, mereka bisa mendapatkan pelayanan pengobatan fisik, termasuk jika mereka setelah dites menderita penyakit tertentu, juga ada berbagai terapi kejiwaan dan pendekatan penyembuhan dengan berbagai kegiatan. Sebelum keluar dan masuk kembali ke masyarakat pun, mereka kita siapkan terlebih dahulu,'' kata Sholikhun.
Ya, residen memang harus melewati berbagai pengecekan.
Mulai tes urine, darah, penentuan terapi yang dibutuhkan, hingga program detok.
Bukan cuma gangguan fisik yang ditangani, pendekatan pun dilakukan pada pemulihan kondisi otak.
Penyakit otak kronis
''Narkoba adalah penyakit otak kronis sehingga kemungkinan untuk otak pulih 100% sangat sulit. Selain itu, kami juga mewaspadai penyakit pada tubuh pengguna, misalnya TBC, jantung, paru-paru, kanker, hingga HIV,'' kata Elvina Katerin, dokter yang sehari-hari menangani residen.
Paparan para narasumber bukan cuma dicatat dalam benak, melainkan juga ditulis para peserta pelatihan.
Usai pemaparan dan tanya jawab, mereka diajak berkeliling di gedung utama.
Mereka melihat beberapa fasilitas, seperti tempat pendaftaran,
laboratorium, ICU, ruang bertemu keluarga, dan melihat miniatur kawasan.
Tak hanya itu, mereka pun melihat hasil karya para residen yang dipajang di lemari kaca.
Menulis berita
Giliran menulis! Para peserta dibagi dalam delapan kelompok yang masing-masing beranggotakan empat orang.
Selama satu jam setengah, mereka ditantang merampungkan tulisannya.
Diskusi pun terjalin, berbagai ide diutarakan kemudian ditulis dalam bentuk feature atau karangan khas.
Usai menulis, giliran Iis evaluasi, mulai pada cara penulisan nama lembaga, tempat, maupun nama narasumber.
Menulis berita dengan meliput langsung di lokasi, menjadi pengalaman tersendiri bagi Jelly Cheaza Kelas 11 SMAN 112 Jakarta.
"Saya sangat senang mendapatkan hal baru dan dapat berkenalan dengan orang-orang inspiratif. Saya menjadi tahu bagaimana menjadi seorang jurnalis dan generasi muda penolak narkoba," kata Jelly.