PEMERINTAH Kota Bekasi sampai kini belum menemukan cara untuk mengolah sampah yang lebih baik agar tidak bertumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Bantargebang. Apalagi, volume sampah yang masuk ke TPA tersebut nyaris melebihi kapasitas.
Kepala Bidang Pendataan dan Pengembangan Dinas Kebersihan Kota Bekasi Ratim Rukmawan mengatakan lahan TPA Sumur Batu yang digunakan untuk menampung sampah dari seluruh wilayah kota itu seluas 15,8 hektare. Lahan tersebut kini telah dipenuhi sampah dengan total volume 2 juta meter kubik (m3).
"Seluruh zona penuh. Bahkan saking penuhnya, gundukan sampah sering kali longsor," kata Ratim, Rabu (8/6). Tinggi tumpukan sampah di TPA Sumur Batu kini telah mencapai 20 meter.
Menurutnya, bila Pemerintah Kota Bekasi belum menyiapkan solusi untuk menyelesaikan persoalan tumpukan sampah di TPA Sumur Batu, diperkirakan September mendatang TPA itu sama sekali tidak bisa lagi menampung sampah dan harus ditutup. Kapasitas ideal TPA tersebut hanya 2 juta m3.
Ratim menyebutkan sampah yang dihasilkan 2,2 juta jiwa penduduk Kota Bekasi saat ini mencapai 1.500 ton per hari. Namun, yang sanggup diangkut truk pengangkut sampah yang ada di Kota Bekasi baru 40%, atau sekitar 600 ton. Selebihnya, sampah belum terangkut lantaran lahan untuk pengolahan sampah dengan metode sanitary landfill di TPA Sumur Batu terbatas.
"Pengolahan di hilir (di TPA) pun terbatas. Makanya, masih banyak sampah terlihat di beberapa tempat di Kota Bekasi," ujarnya.
Untuk mengatasi volume sampah, ujar Ratim, pihaknya akan mencoba mengolah tumpukan sampah yang ada menjadi energi listrik. Sayangnya, anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) Kota Bekasi tidak mampu membeli alat-alat untuk mewujudkan rencana tersebut. Oleh karena itu, saat ini instansinya tengah menggandeng pihak ketiga, PT Nusa Wijaya Abadi, untuk ikut membantu mengolah sampah menjadi listrik. "Memang daya belanja kami belum mampu untuk membeli alat-alat canggih. Namun, pengolahan sampah ialah solusi untuk mengatasi persoalan sampah yang tidak kunjung selesai," jelasnya. Pembangkit listrik Pemerintah Kota Bekasi dalam kerja sama dengan PT Nusa Wijaya Abadi berencana membangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTS) dengan teknologi zero waste menjadi energi listrik di TPA Sumur Batu. Menurut rencana, listrik dari hasil olahan sampah itu akan dijual ke Perusahaan Listrik Negara (PLN).
CEO of Nusa Wijaya (NW) Industries Group Teddy Sujarwanto mengatakan teknologi yang dipakai untuk mengolah sampah menjadi listrik ialah NW circulating heat combustion system. Sampah akan dibakar menggunakan teknologi tinggi dalam temperatur 1.000 derajat celsius. Asap yang dikeluarkan tidak lagi mengandung dioksin, atau racun. "Jika dibakar dengan temperatur tinggi, racunnya akan hilang. Racun tersebut berbahaya dan dapat menyebabkan kanker," jelasnya.
Teddy menjelaskan PLTS yang akan dibangun di TPA Sumur Batu berkapasitas total 29,2 Mwh dan dilakukan dalam empat tahap. Tahap pertama, akan dibangun dengan kapasitas 2 x 2,3 Mwh dengan waktu 12 bulan. Tahap kedua, berkapasitas 2 x 2,4 Mwh dengan waktu 18 bulan, tahap ketiga dibangun berkapasitas 2 x 2,5 Mwh selama 30 bulan, sedangkan tahap keempat PLTS yang dibangun berkapasitas 2 x 2,6 Mwh selama 48 bulan.
Untuk menghasilan listrik sebesar 1 megawatt, ujarnya, diperlukan 4 ton sampah yang dibakar selama 1 jam. Dengan dibangunnya mesin berkapasitas total 29,2 Mwh, sampah yang dibakar sebanyak 116 ton per jam atau sekitar 2.784 ton per hari. "Dengan diolah menjadi tenaga listrik, makin lama volume sampah yang ada di TPA Sumur Batu akan berkurang," kata Teddy.
Pembangunan PLTS tersebut, menurutnya, menghabiskan biaya Rp800 miliar, atau Rp130 miliar untuk tahap pertama. Sementara itu, energi listrik yang dihasilkan akan dijual melalui PLN. (J-2)