FESTIVAL Palang Pintu yang digelar di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu, tetap menarik perhatian. Acara rutin tahunan untuk pelestarian budaya Betawi itu tetap dipadati ratusan pengunjung, seperti pada tahun-tahun sebelumnya.
Banyaknya pengunjung pada acara yang digelar untuk ke-10 kalinya itu bukan tanpa alasan karena dari tahun ke tahun penyelenggarannya selalu berbeda. Termasuk yang diselenggarakan untuk menyambut hari ulang tahun ke-488 Kota Jakarta yang jatuh pada 22 Juni mendatang.
Festival yang digelar oleh masyarakat Kemang, atau tepatnya Kelurahan Bangka, Kecamatan Mampang, tersebut tidak hanya melombakan tradisi palang pintu dan hal lain yang berkaitan dengan tradisi itu, termasuk tarian Betawi. Lomba tarian Nusantara juga digelar.
Palang pintu ialah seni budaya Betawi yang digunakan pada acara pernikahan, yakni ketika menyambut calon pengantin laki-laki. Dalam tradisi Betawi, anak perempuan tidak akan diizinkan menikah dengan laki-laki yang tidak bisa bela diri dan mengaji. Oleh karena itu, saat calon pengantin laki-laki datang, ada palang pintu yang harus dirobohkannya agar dapat menikahi calon pengantin perempuan.
Tradisi palang pintu juga berfungsi sebagai hiburan. Selain berisi gerakan silat khas Betawi, di dalamnya juga ada pantun-pantun jenaka.
Hal lain yang membedakan Festival Palang Pintu kali ini de ngan festival-festival sebelumnya antara lain pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) untuk pemakai batu pandan terbanyak. Ketua Panitia Festival Palang Pintu Ke-10, Darussalam Murtdho, menjelaskan orang Betawi tidak asing lagi dengan batu pandan karena sejak zaman dahulu batu tersebut sudah dikenakan para leluhur mereka sebagai batu akik.
"Orang Betawi tidak punya gunung. Kami cuma punya sungai. Sungai yang ada di Jakarta itulah yang menjadi tempat di temukannya batu pandan," jelasnya di sela pembukaan Festival Palang Pintu, Sabtu (6/6).
Sebagai batu akik, ujarnya, pengenaan batu pandan tidak mengenal perbedaan strata sosial. Masyarakat Betawi mulai tuan tanah, orang kaya, jawara, sampai masyarakat biasa mengenakan batu tersebut. Untuk memecahkan rekor Muri, pada Fetival Palang Pintu kali ini sedikitnya terdapat 1.500 warga Betawi yang mengenakan batu pandan.
"Inilah yang membedakan Festival Palang Pintu tahun ini dengan sebelumnya. Kami akan terus menggali ide-ide kreatif dalam menyajikan perhelatan budaya Betawi tahunan ini agar semakin baik," ujarnya.
Donasi masyarakat Darussalam mengungkapkan, dalam penyelenggaraan festival kali ini panitia menghabiskan dana sekitar Rp300 juta yang diperoleh dari donasi berbagai pihak, yaitu masyarakat dan pengusaha di kawasan Kemang, juga Pemerintah Kota Jakarta Selatan.
Untuk menambah kemeriahan, selama festival berlangsung hingga Minggu (7/6) juga terdapat 308 stan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memawarkan berbagai barang, di antaranya pakaian, sepatu, tas, batik, aneka makanan, termasuk makanan khas Betawi seperti dodol, geplak, bir peletok, dan kerak telor.
Ada dua pangung yang didirikan panitia di arena festival. Panggung utama tepat berada di depan toko swalayan Seven Eleven Kemang dan satu panggung lagi di tengah Jalan Kemang Timur. Di pangung utama itulah terdapat empat juri yang menilai peserta lomba palang pintu dari puluhan sanggar. Pada festival kali ini, juara I lomba palang pintu ialah peserta dari Sanggar Sidkodrat, juara II dari Sanggar Silibet, dan juara III dari Sanggar Saung Jii.
Menurut Darussalam, masyarakat Kemang mulai menggelar festival 10 tahun lalu di tengah berkurangnya kepedulian generasi suku Betawi di Kemang terhadap pelestarian budaya mereka. "Kami awalnya prihatin dengan kebudayaan Betawi yang perlahan mulai hilang. Masyarakat kesulitan untuk bisa menyaksikan kebudayaan Betawi, terutama tradisi palang pintu. Kalau musik gambang keromong, masih ada beberapa yang memainkan. Tapi palang pintu, sulit ditemukan," kata anggota Komisi D DPRD DKI tersebut.
Berawal dari keprihatinan itulah kemudian masyarakat Betawi Kemang mendirikan Sanggar Manggar Kelape sebagai wadah pelestarian budaya Betawi. Kehadiran sanggar itulah yang kemudian melahirkan Festival Palang Pintu. (J-2)