Sirene Pelintasan KA Berbunyi, Permainan Terhenti

Denny Aryanto
08/6/2015 00:00
Sirene Pelintasan KA Berbunyi, Permainan Terhenti
(MI/Galih Pradipta)
SUARA peringatan kereta akan melewati pelintasan berpalang pintu tiba-tiba berbunyi. Empat bocah yang sebelumnya asik bermain kucing-kucingan di tengah rel di belakang Rumah Susun (Rusun) Bendungan Hilir (Benhil), Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, segera menepi.

Dari tengah kumpulan beberapa warga yang sedang duduk berjajar di depan bangunan semipermanen, juga terdengar teriakan seorang ibu kepada para bocah supaya menjauh dari rel. Tidak sampai satu menit kemudian, melintaslah satu rangkaian kereta rel listrik (KRL) dari arah utara.

Meski ancaman sambaran kereta bisa membawa maut kapan saja, tidak terpancar sedikit pun rasa takut di wajah para bocah. Jalur rel yang dipenuhi kerikil seakan menjadi tempat bermain yang mengasyikan bagi anak-anak yang tinggal di bantaran rel sekitar RW 08, Pejompongan.

Kondisi itu merupakan salah satu potret kehidupan warga di Ibu Kota yang lahannya terus digerus roda pembangunan. Di sepanjang bantaran rel belakang Rusun Benhil terdapat ratusan bangunan semipermanen yang berdiri berhimpitan.

Jangankan ada lokasi bermain anak, jarak antara rumah dan jalur rel saja hanya sekitar 2 meter. Di tempat yang semestinya bebas dari permukiman itu, segala aktivitas warga berjalan, mulai dari memasak, menjemur pakaian, hingga lokasi bermain anak.

Arsa, 7, adalah salah satu anak yang sudah terbiasa bermain di rel dan mengaku bahagia bermain bersama teman-teman sebaya meski lokasinya berbahaya. ''Seneng main di sini (pinggir rel),'' katanya, kemarin (Minggu, 7/6/2015).

Banyaknya kereta yang hilir mudik juga tidak begitu dikawatirkan para orangtua. Ani, 38, warga bantaran rel, mengatakan, karena sudah terbiasa beraktivitas di dekat rel, ia dan warga lainnya, termasuk anak-anak, paham betul kapan waktunya kereta lewat.

''Kebetulan rumah kami dekat sama pintu pelintasan, jadi anak-anak tahu kapan harus minggir. Kalau kebetulan lagi di luar, saya juga sering ngingetin anak-anak supaya minggir dulu,'' katanya.

Selama sekitar 10 tahun tinggal di bantaran rel belakang Rusun Benhil, lanjutnya, belum pernah ada warga sekitar yang tertabrak kereta. Korban justru warga luar permukiman yang sedang melintas.

Hal senada dikatakan Agus, 35. Meski membebaskan dua anaknya bermain di pinggir rel, ia selalu mengingatkan mereka supaya berhati-hati. Laki-laki asal Banyumas, Jawa Tengah, itu menyatakan kondisi demikian menjadi konsekuensi bagi dirinya saat memutuskan mengadu nasib di Jakarta.

Selain sulit mencari tempat tinggal di tempat lain, menurutnya, biaya yang harus dikeluarkan juga tidak sedikit. Maka, ia pun terpaksa tinggal di tempat berbahaya. Meski demikian, pedagang mi ayam itu berharap ada pihak yang mau memfasilitasi pembagunan taman bermain anak di lokasi lebih aman, tidak jauh dari permukimannya. (J-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya