Percuma,Kota Bekasi Diberi Alat Modern!

Gana Buana
05/6/2015 00:00
Percuma,Kota Bekasi Diberi Alat Modern!
(MI/Panca Syurkani)
HARI mulai beranjak siang, waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. Puluhan kendaraan umum, bus dan angkot keluar masuk Terminal Kota Bekasi. Kepulan kabut asap hitam dari knalpot, tak henti berputar-putar di udara. Hilang, dan tak sengaja terhirup puluhan calon penumpang.

Sayangnya, sedikit dari mereka memakai masker untuk meminimalkan dampak polusi udara masuk ke tubuh. Tak terbayangkan, bagaimana efek samping dari gas beracun CO2 yang terhirup mereka setiap harinya. Di atas pintu masuk terminal, terpasang pengkur kualitas udara.

Di samping alat tersebut, terpampang panel layar yang menunjukan hasil analisis dari pengukur kualitas udara. Panel itu menyebutkan bahwa indeks kadar udara di sekitar Terminal Kota Bekasi amat tidak sehat. Kondisi itu berlaku pada pukul 15.00 WIB, pada Rabu 27/6 hingga Kamis 28/8/ 2014.

Andiman, 32, calon penumpang bus jurusan Bekasi-BSD mengaku percuma melihat panel tersebut. Karena keterangannya tidak memperlihatkan hasil terkini (up to date). ''Ah itu kan hasil pengukuran yang sudah basi, tidak up to date. Mana saya tau soal kondisi udara hari ini,'' ujar Andiman ketika disambangi di dalam Terminal Kota Bekasi, kemarin (4/6).

Pemkot Bekasi, geram Andiman, seharusnya memantau dan merawat secara rutin alat tersebut. Agar bisa bekerja secara optimal. Alat tersebut dapat menjadi acuan warga untuk menjaga diri dari kepulan polusi yang beredar di sekitar Kota Bekasi.

''Jadi, kita bisa jaga-jaga pakai masker kalau memang tau kualitas udaranya sangat buruk,'' ujar lelaki yang tinggal di Jembatan III, Rawalumbu Selatan, Kota Bekasi ini.

Nasib alat serupa juga ditemui Media Indonesia, seperti yang terdapat di dekat pusat perbelanjaan Mega Bekasi Hypermart, Kota Bekasi. Pemberitahuan kualitas udara terhenti pada tanggal dan waktu yang sama. Padahal, seharusnya pemberitahuan kualitas udara harus diperbaharui setiap hari.

Alat pengukur kualitas udara tersebut merupakan bantuan dari Pemprov Jawa Barat. Nilainya per unit sekitar Rp900 juta, Kota Bekasi mendapat empat unit dengan total anggaran sekitar Rp3,6 miliar.

Keempat alat itu dipasang di Terminal Bekasi, dekat pusat perbelanjaan di Mega Bekasi Hypermal, Kantor Kecamatan Medansatria dan di depan PT Metindo, Kecamatan Bantargebang.

Masalah perawatan alat itu, Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Dadang Hidayat, berdalih belum diserahterimakan, jadi pengawasannya pun belum bisa mandiri dilakukan Pemkot Bekasi. ''Jadi kalau mau meng-update, petugas dari provinsi. Alatnya modern. Kita belum bisa mengoperasikannya,'' kilah Dadang.(J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya