PT JMT tidak Mampu Penuhi Tuntutan Sopir

MI/Akmal Fauzi
04/6/2015 00:00
PT JMT tidak Mampu Penuhi Tuntutan Sopir
(MI/Galih Pradipta)
TIGA hari berturut-turut atau sejak Senin (1/6), 131 pengemudi bus Trans-Jakarta di bawah operator PT Jakarta Mega Trans (JMT) mogok beroperasi. Mereka menuntut kenaikan gaji karena sejak 2007 hanya digaji sebesar upah minimum provinsi (UMP) atau Rp2,7 juta per bulan.

Para sopir yang mengemudikan bus di koridor 5 jurusan Kampung Melayu-Ancol dan koridor 7 Pusat Grosir Cililitan (PGC)-Ancol meminta PT JMT membayar sebesar dua hingga tiga kali UMP. Alasannya, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pernah menjanjikan gaji sebesar itu.

"Sejak 2007 kami hanya terima gaji sebesar UMP. Padahal, Pak Gubernur menjanjikan kese-jahteraan para sopir dengan gaji tiga kali UMP," kata Marbun, salah seorang sopir saat ditemui di pul Trans-Jakarta JMT di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, kemarin.

Menurutnya, selain mendapat gaji Rp2,7 juta, sopir mendapat tambahan uang makan Rp40 ribu per hari. Uang makan hanya dibayar saat mereka beroperasi. Jika tidak beroperasi, termasuk karena bus rusak, uang makan sopir tidak dibayar. Sebaliknya, bila sopir tidak bisa masuk bekerja, gaji dipotong Rp90 ribu per hari. Oleh karena itu, setiap sopir rata-rata hanya bisa mengantongi penghasilan Rp3,7 juta per bulan.

Marbun mengatakan para sopir telah melakukan pertemuan dengan dengan pimpinan PT JMT untuk menyampaikan tuntutan. Namun, perusahaan menyatakan tidak mampu memenuhi tuntutan tersebut sehingga pertemuan tidak menghasilkan kesepakatan apa pun. Bahkan, lanjutnya, PT JMT mengancam sopir yang masih ingin bekerja untuk mendaftar ulang.

Bus usang
Kepala Bagian Administrasi Operasional PT JMT Suratman membenarkan pihaknya mendata ulang sopir yang bergabung kembali dengan aturan lama. Dari 131 sopir yang mogok kerja, hingga kemarin yang telah mendaftar ulang tercatat 30 orang.

"Pada Selasa (2/6) kami memberi waktu kepada sopir yang mau bergabung (lagi) untuk mendaftar ulang. Dari 131 sopir, ada 30 yang sudah (mendaftar) untuk bergabung," katanya. Untuk sopir yang tidak mendaftar ulang, perusahaan belum memutuskan apakah mereka akan diberhentikan atau tidak. Hal itu masih didiskusikan.

Suratman juga mengakui manajemen tidak sanggup memenuhi tuntutan para sopir untuk menaikkan gaji hingga tiga kali UMP. Alasannya, dengan kondisi bus yang usang, PT JMT kerap tidak memenuhi target yang ditetapkan oleh PT Trans Jakarta. Adapun armada yang dimiliki PT JMT terdiri dari 51 bus tunggal dan 14 bus gandeng.

"Dengan kondisi bus kami yang usang, kami cuma bisa melakukan perjalanan 120 kilometer setiap pagi dan sore hari 140 kilometer. Padahal, target yang ditetapkan 294 kilometer. Karena mobilnya sudah tua, pelayanan JMT jadi enggak maksimal dan pendapatan kami menurun," jelasnya.

Meski demikian, Suratman memastikan hari ini seluruh bus PT JMT beroperasi kembali. Pihak manajemen telah bertemu Direktur PT Trans Jakarta yang mengharuskan armada PT JMT beroperasi kembali.

Berdasarkan pantauan, akibat pemogokan para sopir PT JMT, pelayanan di koridor 5 dan 7 dilakukan menggunakan bus bantuan milik PT Trans Jakarta dan DAMRI. Namun, pelayannnya tidak maksimal, karena waktu kedatangan bus di setiap halte lambat.

"Saya sudah menunggu sekitar 15 menit, tetapi bus belum datang. Dalam kondisi normal, bus terus berdatangan sehingga saya tidak perlu menunggu lama," kata Astri, 24, salah seorang penumpang di Halte PGC. (J-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya