TIDAK selamanya niat dan perbuatan baik disikapi dengan hal serupa. Kadang yang terjadi sebaliknya, niat baik justru berbuah tragedi tragis. Itu yang dialami Mulyani, kemarin, di Cilincing, Jakarta Utara.
Awalnya, Mulyani ingin melerai pertengkaran antara Aji dan Darwati, pasangan suami-istri yang tinggal di Jalan Kali Baru Barat IV, Gang IX (Mawar), Kampung Tanah Merdeka, RT 005/RW 07, Kelurahan Kali Baru, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Sebagai kakak dari Darwati, yang juga kakak ipar Aji, Mulyani berupaya mendamaikan pasangan tersebut yang sejak semalam ribut urusan utang piutang. Namun, Mulyani malah ditusuk oleh Aji. Tubuh wanita yang tinggal bersebelahan dengan Aji dan Darwati tersebut bersimbah darah dan meninggal dunia dalam perjalanan ke RSUD Koja.
''Tadinya Mulyani mau mendamaikan mereka (Aji dan Darwati) karena dari semalam ribut terus, katanya ada masalah utang. Terus Mulyani mau misahin Darwati dan anak mereka Bagas, eh tau-tau si Aji langsung nusuk aja pake golok,'' kata Ketua RT 005/07, Kelurahan Kalibaru, Kliwon, saat ditemui di rumah korban, kemarin.
Aksi membabi buta Aji yang bekerja sebagai anak buah kapal itu belum berhenti di situ. Seusai menusuk Mulyani, Aji yang didatangi warga menghunuskan goloknya dan meminta warga jangan mendekat.
''Dia angkat-angkat goloknya. Ancam warga jangan mendekat,'' sambung Kliwon.
Aji yang terdesak dan dikepung puluhan warga dan polisi seketika mengambil Rafa, 4, anak tetangganya, dan dijadikan sandera.
''Dia (Rafa) dibawa ke dalam rumah, dan Aji memegang anak itu sambil menghunus golok. Soalnya dia lari sudah tidak bisa lagi.Mungkin jalan bagi dia supaya tidak ditangkap polisi ialah mengancam bahwa anak ini akan dia habisi juga,'' kata Kliwon.
Pelaku ditembak Ketika melihat kelakuan Aji yang membabi buta dan menjadikan bocah sebagai sandera, polisi yang awalnya persuasif mulai meningkatkan tekanan ke Aji.Empat kali tembakan peringatan sudah dilakukan polisi, tetapi Aji tetap enggan melepaskan Rafa dan menyerahkan diri ke polisi.
''Pelaku malah menyayat sanderanya dengan empat kali sayatan di tangan kiri. Itu tidak kami toleransi lagi dan anggota menembak di bahunya sehingga dia jatuh,'' kata Wakasat Reskrim Jakarta Utara AKB Pujiarto di lokasi kejadian.
Setelah tersungkur dan dibawa ke RSUD Koja untuk diobati, Aji malah melawan. Karena membahayakan polisi, pelaku ditembak di bagian tubuh yang mematikan.
Menurut Pujiarto, aksi nekat Aji selain dipicu tekanan utang yang nilainya Rp2 juta, juga karena pengaruh obat. Dari identifikasi, pelaku minum obat penenang jenis dextromethorpan. (Thomas Harming S/J-3)