Damai Langka di Duren Sawit

23/5/2015 00:00
Damai Langka di Duren Sawit
(ANTARA/Ridwan Hasan)
TAWUR, atau tawuran, di Ibu Kota makin mengkhawatirkan. Bukan hanya pelajar, warga di satu wilayah juga kerap bentrok. Mereka tidak segan-segan melukai warga lain dan merusak fasilitas umum.

Salah satu wilayah yang kerap mengalami tawur ialah Jalan I Gusti Ngurah Rai, Duren Sawit, Jakarta Timur. Dalam satu bulan terakhir, sudah dua kali terjadi tawur di wilayah yang merupakan perbatasan Duren Sawit, Jatinegara, dan Klender itu. Dua kelompok yang berseteru ialah warga Kebon Singkong, Klender, dengan warga Cipinang Jagal, Cipinang.

Pada 1 Mei lalu, kedua warga terlibat tawur pada sore hari. Kedua kubu kembali tawur pada Kamis (21/5) dini hari. Tawur yang berlangsung sejak pukul 01.00 WIB hingga pukul 05.00 itu mengakibatkan lampu penerang jalan dan rumah warga rusak. Bahkan, dilaporkan salah satu warga terluka pada mata karena terkena anak panah.

Warga Kebon Singkong dan Cipinang Jagal memang kerap bentrok. Masalahnya hanya hal sepele, jika di antara warga itu ada yang saling ejek, tawur pun tak terhindarkan. ''Kalau tawuran, biasanya salah satu dari mereka ada yang mengejek duluan, pasti langsung tawuran. Saling ejek, saling lempar petasan, langsung bentrok,'' kata Maman, 45, pemilik warung kelontong di Jalan I Gusti Ngurah Rai.

Ia menuturkan tawur sudah menjadi kebiasan buruk di antara kedua warga tersebut. Bahkan, kasus itu tidak terjadi 1-2 kali, tetapi telah berkali-kali dan sudah bertahun-tahun. ''Sejak saya dagang di sini saja, sudah tujuh tahun, sudah sering tawuran,'' ujarnya.

Dunih, 36, warga RT 06/10 Cipinang Jagal, mengatakan tawur terjadi paling sering jika di antara kedua warga memprovokasi dengan melempar petasan. Selain petasan, ada faktor individu di antara kedua warga yang menyebabkan terjadinya tawur. ''Bukan hanya masalah petasan dan saling ejek juga sih. Masalah pribadi kayak rebutan wanita itu sering jadi penyebab tawuran,'' ungkapnya.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya bahkan mengungkapkan fakta lain. Menurutnya, dua warga yang terlibat tawur diprovokasi pihak tertentu untuk melancarkan masalah pribadi. ''Ada saingan bisnis haram, bisnis narkoba,'' ungkapnya. Pencegahan Wakasat Reskrim Polres Jakarta Timur Komisaris Aris Timang mengatakan, untuk mengantisipasi terjadinya tawur warga, pihaknya meningkatkan patroli. ''Antisipasi pada jam-jam rawan tawuran seperti sore dan malam hari,'' ujarnya Pemerintah Kota Jakarta Timur telah melakukan pertemuan dengan perwakilan warga Kebon Singkong dan Cipinang Jagal untuk mediasi.

Wali Kota Jakarta Timur Bambang Musyawardhana mengatakan pada pertemuan itu disepakati untuk menindak tegas para pelaku tawur. Para ketua RT dan RW sudah sepakat untuk tidak membuat surat permohonan penangguhan penahanan apabila ada warga mereka yang tertangkap aparat kepolisian karena tawur. ''Siapa pun akan kita tindak. Jika ada warga yang terbukti menjadi pemicu tawuran, tidak ada penangguhan dari RT dan RW,'' ujarnya.

Ia juga sudah menginstruksikan camat dan lurah untuk meningkatkan keamanan dengan menggalakkan ronda bersama.

''Dari sisi pencegahan, kami tingkatkan siskamling. Kami sepakat dirikan pos bersama oleh warga, polisi, dan TNI,'' terangnya.

Pihaknya juga memasang lampu sorot yang mengarah ke permukiman warga dua kampung itu.

Selain itu, tembok pemisah antara rel KA dan Jalan I Gusti Ngurah Rai yang jebol diperbaiki.Jebolnya tembok itu membuat warga lebih gampang untuk saling menyerang. (J-1)


akmal@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya