MASYARAKAT harus berhati-hati menyusul informasi maraknya beras sintetis terbuat dari plastik. Seperti dialami Dewi Septiani yang biasa memasak beras untuk dijadikan bubur dan nasi uduk. Pemilik warung bubur dan nasi uduk itu menemukan kejanggalan saat membuat bubur dari beras yang dibeli dari Toko S di pasar tradisional Tanah Merah, Mustika Jaya, Kota Bekasi. Beras itu tak kunjung menjadi bubur meski sudah dimasak lebih dari 1,5 jam. "Bubur dimasak paling lama 1,5 jam sudah matang, tetapi kemarin (Senin, 18/5), hingga 2 jam beras itu belum juga jadi bubur padahal sudah saya tambahkan air," ujarnya saat ditemui di Perumahan Mutiara Gading Timur, Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi, kemarin.
Bukan hanya sulit larut menjadi bubur, beras yang dibeli seharga Rp8.000/kg itu juga tidak memiliki aroma khas seperti layaknya nasi atau bubur matang. Secara kasatmata, beras yang diduga sintetis itu terlihat be-ning tanpa serat. Saat dimasak, bulir beras semakin membesar dan tidak lengket atau menyatu layaknya beras pulen. Karena khawatir akan dampak kesehatan dari beras yang diduga sintetis atau terbuat dari plastik itu, Dewi pun mengunggah foto beras tersebut ke media sosial dan melaporkan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan. Saat mendapati informasi beras yang diduga sintetis itu, pegawai Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Bekasi dan aparat kepolisian pun mengambil sampel beras di warung Dewi dan Toko S untuk diuji laboratorium. S, pemilik toko, mengaku membeli beras tersebut dari agen dan pemasok beras di Pasar Baru Bekasi, Jalan M Yamin, Bekasi Timur.
"Kata penjualnya (agen), beras cap Wayang ini didapat dari daerah Karawang," ungkapnya. Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan POM, Suratmono, mengaku telah menerima sampel beras yang diduga sintetis itu. "Sampelnya baru kita terima sore tadi. Saat ini baru akan diuji, jadi saya belum bisa komentar," ujarnya saat dihubungi, kemarin. Hasil uji laboratorium itu diperkirakan baru bisa diketahui dalam dua minggu. Kapolres Kota Bekasi Komisaris Besar Rudi Setiawan berharap masyarakat tidak segera mengambil kesimpulan sebelum hasil uji laboratorium keluar.
Temuan pertama Dalam menanggapi temuan beras tersebut dan maraknya informasi yang beredar luas di jejaring sosial, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan instansi terkait dan pemerintah daerah untuk melakukan pengawasan dan sidak ke sentra-sentra penjualan beras. Di lain pihak, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menepis adanya informasi bahwa beras berbahan sintetis diimpor dari Tiongkok karena pemerintah memang tidak membuka keran impor beras. "Kita kan tidak izin-kan impor beras, mungkin beras yang dimaksud itu masuk secara ilegal," tegasnya, kemarin. Dirjen Standardisasi dan Perlindungan Konsumen (SPK) Kemendag Widodo mengungkapkan temuan beras yang diduga sintetis di Bekasi itu merupakan temuan pertama kali. Sebetulnya, sambung Widodo, begitu kabar beras sintetis beredar luas, pihaknya telah lebih dulu melakukan penelusuran di lapangan (khususnya Jakarta) selama tiga hari, tetapi hasilnya nihil.