PEPATAH sebuas-buasnya binatang tak mungkin memakan anaknya sendiri seperti mendapatkan pengecualian pada pasangan Nurindria Sari dan Utomo Permono.
Warga Kelurahan Jatikarya, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, itu tega menelantarkan lima anak kandung mereka.
Kelima anak itu, Laras, 10, Chika, 10, Dani, 8, Alin, 5, dan Dina, 4, pun kerap mendapatkan kekerasan.
Anak laki-laki semata wayang mereka, Dani, bahkan harus luntang-lantung di luar rumah selama lebih dari tiga pekan terakhir.
Meski Nurindria dan Utomo tinggal di perumahan elite, kondisi rumah mereka jauh dari bersih.
Rumah dipenuhi baju kotor dan sampah. Tak ayal, bau busuk menyeruak dari rumah itu.
Fatimah, bendahara RW setempat, mengaku warga perumahan merasa iba dengan nasib Dani.
Mereka sesungguhnya sudah berencana merawat Dani, tetapi selalu mendapat perlawanan dari sang ayah.
Utomo yang bekerja sebagai dosen di salah satu PTS di daerah Cileungsi, Kabupaten Bogor, itu diketahui memiliki perilaku temperamental.
"Saya saja yang menolong Dani selalu dimarahi dan malah dibilang mau menculik anaknya. Padahal saya hanya kasih makan dan memberikan baju saja," tutur Fatimah.
Selama diusir dari rumah, Dani hanya bisa berkeliaran dengan sepeda di perumahan.
Dani tidak berani pulang ke rumah karena takut disiksa ayahnya.
"Kata dia, cara itu untuk mendidik anak laki-laki," jelas Fatimah.
Sugeng Pribadi, ketua RW setempat, menambahkan, warga pernah memberi nasihat kepada kedua orangtua Dani, tetapi mereka berdalih Dani anak yang nakal dan kerap membuat orangtua geram.
Akibat diusir, Dani pun membolos sekolah selama tiga pekan.
"Kami sudah bertemu Utomo melakukan persuasi, tapi selalu saja ia mengulangi perbuatan kasar itu hingga warga melaporkan kejadian ini ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)," katanya.
Asep Hilman, 42, tetangga Utomo, mengatakan Utomo dan Nurindria merupakan suami-istri yang tertutup. Mereka tidak pernah bergaul dengan masyarakat sekitar.
Bahkan, pintu rumah mereka pun selalu tertutup rapat.
Sepengetahuan Asep, Dani merasa terasing sejak keluarga itu menetap. Apabila pintu rumah dikunci, Dani kerap tidur di teras rumah tanpa selimut dan beralaskan koran.
"Baru-baru ini saja dia tidur di pos satpam, sebelumnya tidur di teras rumah," kata Asep.
Asep tak yakin Utomo bekerja sebagai dosen sebab pria asal Jawa Timur itu jarang di rumah dan kerap pulang dini hari.
Kemarin, penyidik Satuan Kejahatan dan Kekerasan Polda Metro Jaya bersama KPAI menjemput kedua orangtua Dani untuk diperiksa.
"Lima anak (Utomo) dipelihara kayak binatang," kata kata Kepala Unit I/Jatanras Polda Metro Jaya Komisaris Budi A Towoliu.