Mengejar KRL dari Pagi Buta

Gana Buana, Thomas Harming S
08/5/2015 00:00
Mengejar KRL dari Pagi Buta
(MI/Ramdani)
ANISA Turrohmah, 25, mengucek matanya sesaat ketika KRL yang ia tumpangi berhenti di Stasiun Cikini, Jakarta Pusat. Lelap tidur sepanjang perjalanan dari Stasiun Bekasi berakhir ketika suara operator kereta membuatnya terjaga. Bergegas ia bangkit dari tempat duduk menuju pintu terdekat untuk keluar.

Akhirnya, perjalanan rutin yang dimulai pukul 05.40 WIB dari Stasiun Bekasi Kota itu berakhir pukul 06.30 di Stasiun Cikini. Sudah dua tahun terakhir, warga asal Babelan, Kabupaten Bekasi, itu menjadikan KRL commuter line sebagai transportasi andalan menuju tempatnya bekerja.

Anisa yang bermukim di Desa Babelan Kota, Gang Patriot, Kabupaten Bekasi, setiap hari harus menempuh jarak sekitar 3 km untuk sampai ke Stasiun Kota Bekasi. Waktu tempuh yang mencapai 20 menit mengharuskan Anisa bangun sekitar pukul 04.00 setiap pagi di hari kerja.

Perjuangan Anisa pun tak sampai di situ. Ia mewajibkan diri sampai di Stasiun Bekasi Kota setidaknya 10 menit sebelum kereta berangkat. Hal tersebut dilakukan agar dia bisa kebagian kursi dalam rangkaian KRL.

''Biasa naik jadwal pemberangkatan kedua, pukul 05.40, jadi paling telat pukul 05.30 saya harus sudah sampai stasiun. Kalau telat sedikit, sudah tidak kebagian tempat duduk,'' ujar karyawan salah satu bank swasta di Jakarta itu.

Perebutan kursi penumpang merupakan hal lumrah yang biasa ia hadapi sehari-hari. Kursi penumpang merupakan barang berharga bagi para penumpang KRL. Meskipun hambatan sepanjang perjalanan KRL tidak seberat jalan bus kota, para penumpang tetap ingin menikmatinya dengan nyaman.

Pagi hari Anisa akan terasa berat bila tak mendapatkan kursi penumpang karena perjalanan menuju Stasiun Cikini selama 1 jam selalu ia manfaatkan untuk istirahat.

''Saya bangun kepagian, makanya tidur saya lanjutkan selama perjalanan ke kantor. Kalau <>nggak dapat duduk, badan bawaannya lemes,'' tuturnya.

Namun, jika tak mendapatkan kursi penumpang, ia lebih memilih menunggu jadwal keberangkatan selanjutnya. Dia tak berkeberatan untuk menunggu lebih lama asalkan bisa mendapatkan tempat duduk.

Hal serupa pun diakui Nurfitria Astarani, 25, warga Perum Bumi Anggrek, Kelurahan Karang Satria, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Ia mengaku melakukan hal serupa yang dilakukan Anisa untuk mendapatkan tempat duduk.

Penambahan jadwal keberangkatan KRL commuter line amat membantu warga Bekasi. Beban angkut sebuah rangkaian kereta pun lebih ringan jika dibandingkan dengan sebelumnya. Langkah itu dianggap Nurfitria sebagai solusi.

Adanya penambahan jadwal perjalanan KRL bisa sedikit mengurai kepadatan penumpang. Namun realitanya, hal tersebut tidak terlalu berdampak positif karena KRL juga sering mengalami gangguan.

''Jadi, penambahan itu tentu saja baik. Tapi kalau penambahan dan ternyata masih ada gangguan, kan sama saja. Jadi ini persoalan yang tidak tunggal, tetapi banyak faktornya,'' ujar Koordinator Komunitas KRL Mania Jabodetabek, Nurcayo, di Jakarta, Kamis (30/4).

Karena itu, menurut dia, selain menambah jadwal dan memperbaiki fasilitas sehingga meminimalkan gangguan, pihak kereta api juga haru melakukan terobosan soal adanya kereta sekunder dan feeder. ''Itu penting untuk bisa atasi faktor ini. Terutama saat-saat jam sibuk dan padat penumpang,'' tukasnya.(J-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya