Mundur Sebentar Hilangkan Malu, lalu Kembali

04/5/2015 00:00
Mundur Sebentar Hilangkan Malu, lalu Kembali
(ILUSTRASI--MI/Ramdani)
PENGUNDURAN diri Samah Ari, Kepala Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Rangon, Jakarta Timur, karena tidak bisa meng­operasikan komputer, ternyata hanya sebentar. Belum genap dua pekan bertugas di tempat barunya, TPU Perumpung, Jatinegara, Samah kini malah kembali bekerja di TPU Pondok Rangon dengan jabatan yang sama.

Padahal, jabatan yang sudah ditinggalkan Samah sudah diisi Samsudin, yang sebelumnya menjabat Kepala TPU Pulau Seribu, Jakarta Utara. Akibatnya, saat ini ada dua kepemimpinan di TPU tersebut. Samsudin yang tak enak hati, kadang memilih bolos karena bingung apa yang harus dia kerjakan.

"Kalau kepala sudin (suku dinas) ingin netral, Sujana yang dimutasikan ke TPU Cilangkap, serta Agustinus yang dimutasi ke TPU Pondok Kelapa harus dikembalikan juga ke TPU Pondok Rangon. Karena mereka dimutasi bersamaan," kata Samsudin.

Ketika dikonfirmasi, Samah memilih bersikap cuek. "Saya mau ke lapangan lihat lokasi," ujarnya.

Salah seorang tukang gali kubur di TPU Pondok Rangon mengungkapkan kembalinya Saman di TPU itu karena di sana banyak pungutan liar yang bisa dikutip. Misalnya, delapan tenda yang dimiliki TPU disewakan Rp300 ribu. Padahal, tenda-tenda itu merupakan hibah dari Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, sedangkan untuk pemasangan rumput dihargai Rp700 ribu per makam, pembuatan batu nisan dan lukisan Rp500 ribu per makam. Untuk uang gali tutup makam Rp500 ribu per makam. Padahal, kesemuanya itu sudah dibiayai oleh Pemprov DKI.
Selain itu masih terjadi sistem jual beli lahan. Petak makam di pinggir jalan diberi harga lebih tinggi.

Adanya pungutan liar kepada ahli waris itu diakui sendiri oleh Samah. Menurut dia, pungli itu dikutip untuk membayar honor 10 tenaga harian lepas (THL) yang bertugas di TPU tersebut. "Dari pungli itulah honor mereka," kata Samah.

Sebelumnya, Samah yang lulusan SD itu gemetar ketika Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman (DPP) DKI Jakarta Nandar Sunandar muncul di TPU itu pada Jumat (27/3). Nandar meminta Samah membuka komputer di mejanya karena hendak mengecek data jumlah warga DKI dan sekitar yang dimakamkan di TPU Pondok Rangon.

Bukannya melakukan perintah atasan, Samah malah meninggalkan ruangan setengah berlari. ia memanggil anak buah yang selama ini ia percaya mengakses data pemakaman di komputer. Sial untuk Samah, sang anak buah hari itu tidak masuk.

Kejadian saat inspeksi mendadak oleh atasannya itulah membuat Samah memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala TPU Pondok Rangon.

"Mulai 1 April saya pindah ke TPU Tipe C yang tak ada jaringan internetnya. Karena tak bisa (pakai) komputer, lebih baik saya mundur daripada malu-maluin," tuturnya saat itu. (Kisar Rajagukguk/J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya