Plastik Memantik Penyakit (2): Konsumen Merasa Aman Bersama Brand Terkenal

Anata Syah Fitri Siregar
04/5/2015 00:00
Plastik Memantik Penyakit (2): Konsumen Merasa Aman Bersama Brand Terkenal
(ANTARA/Yudhi Mahatma)
MEMBAWA botol minuman dan wadah makanan pribadi, bukan lagi hanya milik anak sekolah, tapi orang dewasa pun membawanya ke tempat kerja.

Umumnya konsumen tidak mengetahui bahaya yang mungkin mengancam dari kandungan pada plastik yang mereka pakai.

Media Indonesia mewawancarai 10 orang yang rutin memakai produk plastik untuk tempat minum dan makan. Semuanya masih gamang tentang bahaya yang mungkin timbul dari kandungan produk tersebut.

Rully Firdaus, 27, karyawan swasta di Jakarta yang rutin membawa botol minum ke tempat kerja, mengaku pernah mendapat pesan dari temannya bahwa produk yang dipakainya bisa saja terbuat dari bahan berbahaya. "Namun, sejauh ini kalau saya beli merek terkenal, ya merasa sudah aman," ujarnya, pekan lalu.

Dalam membeli botol minum berbahan plastik, Rully hanya mempertimbangkan faktor desain, harga, dan seberapa kuat produk tersebut. Sebagian besar dari responden menempatkan brand terkenal sebagai penentu tingkat keamanan.

"Saya tidak mengetahui jenis-jenis plastik yang mungkin berbahaya bagi kesehatan. Patokan saya, kalau mereknya masih baru dan belum terkenal, saya enggak akan ambil. Harga nomor dua kalau untuk anak," tegas Fitri Anjani, 27, ibu rumah tangga yang membeli botol susu bayi berdasarkan acuan merek terkenal.  

Jawaban serupa diterima dari Ina Kesuma yang sedang pilih-pilih produk untuk wadah minuman di Ace Hardware Lippo Karawaci, Tangerang. "Wah, saya patokannya harga saja. Karena ada harga ada rupa. Lagi pula sekarang banyak pilihan wadah makanan yang menarik. Saya lebih memilihnya dari pertimbangan itu," ujarnya.

Tidak hanya pertimbangan harga dan desain, Ina pun mengaku tidak mengetahui standar kesehatan sebuah produk. Dirinya tidak memerhatikan letak dan simbol pada sebuah produk. "Oh, ada ya? Saya tidak tahu. Letaknya saya tidak tahu apalagi artinya. Apakah itu berpengaruh," tukasnya.

Ketika menelusuri peredaran produk plastik di pasaran, Media Indonesia menemukan banyak sekali merek dagang, mulai dari produksi dalam negeri maupun luar negeri seperti Tiongkok, Jepang, Korea, hingga buatan Vietnam, tidak mencantumkan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Sebagian memang mencantumkan keterangan BPA-Free alias bebas dari kandungan bisphenol A (BPA). Pencantuman keterangan BPA-Free pun beragam. Ada yang tertera secara embos (timbul) pada produk, ada yang berupa stiker yang dilekatkan pada pembungkus produk, ada juga yang dicetak pada pembungkus atau item tambahan pada pembungkus.

Pencantuman tanda tersebut dilakukan produsen setelah Amerika Serikat menetapkan standar tersebut bagi keamanan konsumen produk plastik. Di Indonesia, tanda BPA-Free tidak diwajibkan sehingga pihak produsen dapat memproduksi sebebas-bebasnya.

Produsen produk wadah pangan dan minuman berbahan plastik di kawasan Jakarta Utara, PT Kirana Pasific Luas, misalnya, menyatakan produknya tidak menyertakan sertifikat uji apa pun karena memang tidak perlu.

Begitu juga pengakuan staf bagian penjualan PT Cahaya Perdana Plastics yang memiliki merek dagang terkenal di Indonesia. Menurutnya, kualitas produknya sudah terjamin meski tanpa mencantumkan keterangan BPA-Free. "Standardisasi kan tidak ada aturannya," tuturnya yang menghalangi Media Indonesia untuk konfirmasi kepada atasannya.

"Pimpinan saya enggak suka ngomong dengan wartawan. Enggak akan dikasih. Sudah banyak wartawan yang mencoba wawancara, tetapi dia enggak mau," kukuhnya.

Lain halnya dengan Hasan, distributor produk wadah plastik impor dari Tiongkok dan Jepang. Meski tidak wajib, perusahaannya PT Anugrah Satu Talenta mengaku menguji produk-produk yang diimpornya ke Sucofindo.

Menurutnya, semua produk yang mereka jual sudah menyebutkan keterangan aturan mengenai keamanan. Sebagian lagi bahkan sudah mencantumkan BPA-Free. "Itu balik-baliknya ke faktor harga. Kalau yang benar BPA-Free itu harganya di atas rata-rata karena bahannya memang berbeda," ungkapnya.

Hasan menjamin produknya yang belum mencantumkan BPA-Free juga aman. "Kami cantumkan ketahanan panasnya sampai berapa derajat. Sebenarnya  kita kan enggak mungkin langsung masukkan air mendidih ke wadah. Kalau bikin teh pakai air mendidih, kan tidak langsung di botol," kilahnya. (Nat/Ami/*/T-1) 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya