Warga Dukung Pemkab Tertibkan Lokalisasi Dadap

Sumantri Handoyo
06/3/2016 13:36
Warga Dukung Pemkab Tertibkan Lokalisasi Dadap
(tangerangrayaonline.com)

RENCANA penertiban atau pengusuran terhadap rumah-rumah yang dijadikan sebagai kafe dan praktek prostitusi di Kampung Baru, Kelurahan Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang mendapat dukungan dari masyarakat luas, termasuk warga di kampung tersebut.

"Kami sangat mendukung rencana Pemda Kabupaten (Pemkab) Tangerang yang akan menertibkan lokasi-lokasi prostitusi di sini," kata Misbah, 63, tokoh masyarakat Kampung Baru, Kelurahan Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, kemarin.

Karena, kata Misbah, dirinya beserta mayoritas warga di Kampung Baru sebenarnya sudah lama menginginkan hal tersebut, . "Saya bukan Daeng Azis. Saya di sini tidak punya kepentingan atas lokasi prostitusi itu. Karena saya di sini hanya tingal bersama istri dan tujuh orang anak dengan membuka usaha kecil-kecilan warung klontong," kata Misbah yang tinggal di rumah sederhana berukuran sekitar 5 x 10 meter di RT 3, RW 03, Kampung Baru, Kelurahan Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten.

Asalkan, kata Misbah, yang juga bekerja di rumah pembakaran jenazah (Kremasi) Jabar Agung di kampung itu, penertiban dilakukan kepada rumah-rumah atau kafe yang dijadikan tempat prostitusi. Bukan tempat tinggal warga .

"Kalau Pemkab Tangerang hanya ingin menertibkan tempat-tempat prostitusi, tidak perlu meminta bantuan dari Polisi dan TNI. Kami sendiri siap melakukannya. asalkan mendapat dukungan dari Pemkab Tangerang," kata Misbah yang didampingi Embing, 67, Mantan Jaro Kampung Baru beserta Hamdani,75, sesepuh di kampung itu.

Namun kata Misbah, bila penertiban itu dilakukan juga terhadap pemukiman warga, pihaknya merasa keberatan. Apalagi jika penggusuran itu tidak disertai dengan relokasi atau ganti rugi.

"Ya kalau memang Pemkab ingin meniru Pemda DKI Jakarta yang menggusur KaliJdo secara keseluruhan, persiapkan dulu relokasinya, seperti yang dilakukan Pemda DKI . Jangan latah lalu rakyat yang di korbankan," kata Misbah.

Dan untuk merelokasi warga, kata dia, Pemkab Tangerang juga harus menyesuaikan dengan keadaan masyarakat Kampung Baru yang mayoritas bekerja sebagai nelayan. " Ya, kalau nelayan dimananpun mereka direlokasi, asalkan dekat pantai. Bila tidak, mereka tidak akan bisa hidup," kata Misbah yang mengaku tinggal di daerah tersebut sejak lahir.

Lebih jauh Misbah mengatakan, sekitar tahun 1974, Kampung baru banyak di datangi para nelayan dari kampung Muara Karang yang digusur oleh pemerintah DKI, Jakarta. Selain membeli lahan dan membangun rumah seadanya dari para penggarap yang disaksikan oleh RT, RW dan Lurah setempat, mereka mulai menjalankan kehiidup di sana. "Ya, waktu itu dengan datangnya para Nelayan Muara Karang, Kampung Baru hanya dihuni sekitar 70 orang jiwa," kata dia.

Namun setelah Bandara Soekarno Hatta (BSH) dibangun pada tahun 1980, kata Misbah, Jumlah warga Kampung Baru terus bertambah. Dan sejak 1984 mulai bermunculan kafe-kafe yang

menyiapkan pekerja sek Komersial (PSK). "Mereka adalah pendatang dan pindahan dari tempat lain. Kehadirannya disini selalu datang dan pergi," kata Misbah yang rumahnya bersebarangan dengan kafe Doli-Doli.

Namun kata dia, bila dibanding dengan jumlah masyarakat di Kampung Baru yang saat ini mencapai sekitar 6 ribu jiwa, keberadaan mereka sangat kecil. "Jumlah persisnya kami tidak tahu. Tapi bila melihat kafenya hanya sekitar 40 an unit," kata Misbah.

Hanya saja, lanjut Misbah kehidupan mereka sudah berbaur dengan masyarakat. Karena lokasi yang mereka hinggapi berdampngan dengan pemukiman, tempat ibadah dan lainnya. "Selama ini kami hidup berdampingan dengan para pemilik dan pelaku prostitusi itu. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, karena kami kuatir berbenturan dengan hukum,," kata Misbah

Berdasarkan pemantauan di lokasi, meskipun rencana penggusuran itu akan dilakukan oleh Pemkab Tangerang pada awal Mei 2016 nanti, sepertinya belum ada tanda-tanda penertiban di sana. Para Pemilik Kafe dan pekerja sek Komersial (PSK) tetap menjalankan usahanya seperti biasa.

Bahkan selepas ishak, para pengusaha kafe sengaja menjajar belasan kursi plastik di depan kafe itu atau sisi Jalan Swadaya, Kampung Baru, Keluraha Dadap, Kecamatan Kosambi, guna memamerkan PSK-nya kepada setiap orang yang melintas.

Suara musikpun dan kerlap kerlip lampu turut meramaikan suasasana. Para konsumen terus berdatangan hingga larut malam. "Ya kalau di suruh pindah kami juga pindah. Kalau ngak ya nggak," kata salah satu PSK di kampung tersebut dengan nada santai. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Aries
Berita Lainnya