Kami tidak Mau lagi Jadi Penonton

MI
25/4/2015 00:00
Kami tidak Mau lagi Jadi Penonton
Seorang penari sedang mementaskan tari topeng Betawi(ANTARA)
RUMAH si Pitung, pendekar Betawi, di Kampung Marunda Pulo tidak hanya menjadi tempat tujuan wisata sejarah atau budaya. Tujuan wisata di pesisir utara Jakarta itu sudah menjadi pusat kegiatan seni dan budaya bagi warga kampung setempat.

Generasi muda Kampung Marunda, yang setelah sekian lama hanya menjadi penonton saat ada pentas seni budaya di sana, kini bertekad untuk menjadi lakon utama seni dan budaya, setidak-tidaknya menjadi kelompok tari.

"Intinya kami tidak lagi mau jadi penonton saja di sini. Kami juga ingin tampil di kampung kami sendiri," ujar Abdul, guru tari yang tengah melatih tari anak-anak remaja di pelataran Rumah si Pitung, Minggu (18/4) lalu.

Abdul ketika itu sedang membimbing delapan remaja putri berlatih tari Tipeng Gegot, sebuah tarian khas Betawi, untuk ditampilkan saat acara pentas budaya bersama persatuan artis Betawi pada 26 April di pelataran Rumah si Pitung.

"Selama ini kan di sini suka ada acara budaya, tapi anak-anak di sini selalu jadi penonton doang. Yang tampil, ya dari luar semua. Makanya kita adakan inisiatif latihan tari ini supaya anak-anak di sini juga bisa tampil di Rumah si Pitung ini," kila Abdul, jebolan Alfa Dancer, dengan antusias.

Meski tidak memiliki sanggar resmi, Abdul berharap inisiatif pribadi ini bisa juga didukung oleh pemerintah. "Kami selama ini rutin saja latihan, biasanya Sabtu-Minggu. Harapannya anak-anak di sini bisa difasilitasi juga kemampuan tarinya. Kelak, mereka tidak lagi sekadar jadi penonton, tetapi yang ditonton," harap Abdul.

Merlin, 13, salah seorang anggota kelompok tari yang dilatih Abdul, mengaku senang bisa memiliki kegiatan positif di Rumah si Pitung ini. Bagi Merlin, selain untuk mengembangkan bakat menari, dia dan teman-temannya ingin sekali tampil di Rumah si Pitung.

"Selama ini banyak acara besar di sini. Makanya saat ada kesempatan untuk menari, saya senang sekali. Saya dan teman-teman akhirnya bisa tampil juga di sini," ungkap Merlin.

Sejak 1972, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membeli rumah itu dari keluarga Syaifuddin dan menjadikannya cagar budaya. Rumah si Pitung kembali diingat saat Jokowi mendeklarasikan kesiapannya maju menjadi calon presiden pada 2014. (Ths/J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya