Merawat Jejak si Pitung di Marunda

MI/THOMAS HARMING SUWARTA
25/4/2015 00:00
Merawat Jejak si Pitung di Marunda
(MI/RAMDANI)
SEKILAS tidak ada yang istimewa dari bangun-an rumah panggung berwarna merah tua di Kampung Marunda. Lengkapnya beralamat di RT 01/RW 07 Marunda Pulo, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Pun ketika menaiki tangga dan menengok isi bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 2.500 meter persegi itu, tidak banyak ditemukan benda-benda bersejarah yang spesial.

Di pintu masuk, terdapat ruang tamu dengan satu meja dan empat kursi rotan. Beranjak ke dalam, di sisi kiri terdapat satu ruang tidur dengan satu buah tempat tidur berseprei warna putih lengkap dengan kelambunya. Di pinggir kasur diletakkan satu buah Alquran. Di ruang berikutnya, ada ruang keluarga. Di sana terdapat satu buah meja dan dua kursi ditambah satu mainan congklak, yang bersambungan dengan bagian dapur rumah dengan peralatan dapurnya. Sampai di bagian belakang terdapat beranda belakang rumah, tanpa diisi apa-apa.

Menurut Farhan, juru pelihara rumah itu, semua benda itu replika. Bentuk fisik rumah asli, hanya diperbarui agar tetap berdiri kukuh. "Kita membayangkan saja bagaimana isi rumah-rumah zaman dulu. Bentuk rumah dan ukurannya tetap seperti aslinya," ujar Farhan saat berbincang dengan Media Indonesia, akhir pekan lalu.

Itulah Rumah si Pitung, legenda Betawi yang kerap disebut Robin Hood Betawi karena aksinya sebagai pahlawan bagi rakyat miskin. Konon, si Pitung bersembunyi di rumah itu selama satu bulan dari incaran Belanda. Berbagai sumber mengatakan tidak lama setelah itu si Pitung yang dianggap memiliki ilmu menghilang ditangkap lalu dimutilasi seusai dilumpuhkan dengan peluru emas. "Cuma ini kan asalnya juga cerita turun-temurun. Bisa benar, bisa tidak," tukas Farhan.

Rumah si Pitung yang berukuran 150 meter persegi itu tiap akhir pekan selalu ramai dikunjungi. Pengunjung yang datang biasanya berombongan. Mereka menggelar tikar di kolong rumah si Pitung sambil menikmati makan siang. Sebagian lagi sedang sibuk latihan tari. Menurut Farhan, kunjungan ke Rumah si Pitung saat Minggu atau tanggal-tanggal merah memang lumayan ramai. "Bisa sampai seratusan. Biasanya, ya, selain lihat-lihat rumah, ya, lesehan sambil makan siang. Kan di sini juga ada Masjid Al Alam dekat pinggir pantai. Jadi selain main ke pantai mampir ke sini juga," jelas Farhan yang mengaku tidak menarik biaya masuk apa pun untuk berwisata ke Rumah si Pitung itu alias gratis.

Cagar budaya terisolasi

Pengunjung yang datang ke Rumah si Pitung dari Januari-Maret 2015, ungkap Farhan, total mencapai 2.716 orang, dengan rincian 2.241 dewasa, 414 pelajar, 55 pengunjung dinas, dan enam turis asing. "Hanya memang kendalanya di sini jalan akses masuk sempit. Terpaksa mobil harus parkir di luar yang agak jauh, baru jalan kaki ke sini. Maka kalau boleh kasih usul supaya jalan akses masuk diperlebar," harap Farhan.

Hal yang dikeluhkan Farhan ada benarnya. Saat masuk Rumah si Pitung selepas Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, jalanan sangat sempit dan praktis tidak bisa dilewati kendaraan roda empat. Jika pengunjung membawa mobil, diparkirkan terlebih dahulu di depan SDN 02 Marunda. Dari situ pengunjung berjalan kaki dengan melewati jembatan dan empang warga kira-kira 150-200 meter. "Repotnya memang kalau siang, panas sekali. Nah kalau ke sana jalan kaki, ya, tahu sendiri," ujar Ratna, salah satu pengunjung di sana.

Menurut Ratna, bangunan liar milik warga yang berdiri di atas kali dan empang agar ditertibkan. "Ini kan sudah jadi lokasi wisata. Seharusnya kebersihan dan kerapian harus dijaga. Enggak elok kan pas di jalan masuk, kalinya jorok, jalanannya sempit, rumput liarnya banyak, terus bangunan liar di atas empang banyak sekali dan itu sangat mengganggu," kata Warga Cipinang, Jakarta Timur itu.

Meski tidak banyak hal yang bisa dinikmati di Rumah si Pitung, bagi Ratna, itu tetap harus dijaga dan dirawat. Lokasinya sudah menjadi cagar budaya. Menikmati warisan bersejarah, seperti Rumah si Pitung, ialah pengetahuan yang tiada ternilai. Ratna mengaku penasaran, setelah Presiden RI Joko Widodo memilih tempat itu untuk menyatakan diri pertama kali di hadapan publik maju sebagai calon presiden pada Maret 2014. (J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya