Sedia Bot sebelum Belanja

Amalia Tiaraputri, Eva Wondo
17/4/2015 00:00
Sedia Bot sebelum Belanja
(MI/Agus Mulyawan)
KONDISI pasar yang becek, kotor, dan berbau tak sedap tidak menyurutkan langkah Mala, 36, untuk tetap berbelanja ke Pasar Kemiri Muka, Depok. Ibu rumah tangga itu memilih berbelanja di sana, karena lokasi pasar itu yang paling dekat dengan rumahnya. Selain itu, harga kebutuhan dapur di pasar tradisional jauh lebih murah ketimbang membeli di pasar modern atau tukang sayur keliling.

''Yang penting keluarga keurus makannya. Saya belanja di sini karena murah juga. Sudah ada langganan,'' ujarnya saat ditemui, beberapa waktu lalu.

Untuk mengakali jalanan pasar yang becek, berlumpur, dan penuh sampah, Mala sengaja memakai bot saat berangkat ke pasar. ''Saya pakai bot aja nih. Yang penting kaki saya tetap bersih, enggak kena lumpur,'' tuturnya sembari menunjukkan bot hijau tua yang dikenakan.

Berbeda dengan Mala, Ning, 40, pelanggan tetap di Pasar Kemiri Muka, memilih memakai sandal jepit butut setiap berbelanja. ''Jangan pakai sandal yang bagus-bagus, sayang nanti cepat rusak,'' ujarnya.

Untuk membersihkan kakinya yang penuh lumpur, Ning selalu membeli segelas air mineral setiap habis berbelanja. ''Ya disiram saja ini kaki biar sampai rumah enggak bawa lumpur, oleh-oleh dari pasar,'' selorohnya.

Tidak hanya aktivitas pasar yang membuat kumuh Pasar Kemiri Muka. Sejumlah kios kosong yang dimanfaatkan menjadi tempat tinggal para petugas kebersihan, pemulung, dan preman juga menyumbang kotor dan semrawutnya pasar.

''Memang ada kios yang ditempati petugas kebersihan. Karena rumah mereka jauh, sedangkan mereka harus membersihkan pasar dari dini hari. Kalau sewa kos mereka enggak sanggup,'' kata Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pasar Kemiri Muka Cucu Suwardi.

Menurut Cucu, para petugas kebersihan itu ikut menyumbang iuran seperti layaknya pemilik kios lainnya di pasar tersebut.

Sementara itu, mengenai banyaknya pemulung dan preman yang hidup di sana, menurut Cucu, pihaknya tengah berupaya menertibkan untuk membersihkan pasar. ''Saya sudah kirim surat ke dinas. Tunggu hasilnya saja. Namanya juga preman, pasti ada di mana-mana,'' jelas Cucu.

Sementara itu, di Pasar Sukatani, Depok, kondisinya berbeda. Kios dan los pedagang tertata rapi sehingga para pembeli lebih nyaman berbelanja. Di setiap kios, disediakan tempat sampah untuk menampung sampah dagangan setiap penjual. Petugas kebersihan siaga dan siap membuang sampah sejak pukul 08.00 hingga 16.00.

Basyir, salah satu pedagang ikan di Pasar Sukatani, mengatakan para pedagang di pasar tersebut sudah terbiasa mengumpulkan sampah di tempat yang sudah disediakan petugas. ''Jadi tidak dilempar-lempar ke jalan. Limbah ikan kami buang di tempat sampah. Kalau ada yang mau, saya kasih. Kalau tidak, ya dikumpulkan menunggu diambil petugas,'' kata Basyir.(J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya