ERNI, 33, duduk termangu di depan gerbang SDN Margamulya II, Jalan Kampung Rawa Bugel, Kelurahan Margamulya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, kemarin siang. Tangannya memegang kotak plastik berisikan mi kuning siap olah.
Dengan lemas ia pun beranjak dari lapak jualannya menuju warung kecil di depan sekolah. Tujuannya ialah untuk berteduh lantaran barang dagangannya sepi pembeli.
"Pusing pala barbie. Sudah seharian ini anak SD jarang yang beli jajanan," ungkapnya.
Sehari-hari Erni berjualan jajanan anak SD berupa mi goreng olahan dengan bahan-bahan yang diracik sendiri. Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp1.000-Rp2.000, para pelajar bisa menikmati mi goreng olahan Erni. Biasanya Erni pun bisa menghabiskan 8 kg mi kuning basah untuk dijadikan mi goreng olahan untuk dijualnya.
"Biasanya rata-rata penghasilan saya Rp250 ribu per hari. Tapi sekarang Rp50 ribu saja saya belum dapat," keluhnya.
Penggerebekan pabrik bumbu tabur instan Caswati merupakan penyebab sepinya dagangan Erni. Pabrik tersebut diduga telah menjual bumbu tabur instan yang kedaluwarsa.
Meskipun Erni telah mengganti bahan baku dagangannya dengan produk lain yang lebih bagus, tetap saja barang dagangannya tak laku. Padahal bumbu yang dia pakai sekarang harganya cukup mahal demi meyakinkan pembeli.
Mi kuning kering yang biasa dibeli dengan harga Rp9.000 per kilogram kini dibelinya dengan harga Rp13.500 per kg. Adapun bumbu instan goreng rasa ayam bawang yang biasa didapatnya dengan harga Rp20 ribu per kg, kini ia ganti dengan bumbu penyedap yang biasa dijual di minimarket. "Tapi anak-anak masih menyangka bahan yang saya gunakan masih berasal dari pabrik tersebut (Caswati)," tuturnya.
Tidak hanya Erni, Dewi, 42, pedagang warung kelontong, pun mengeluhkan pengurangan omzet yang didapat. Dewi merupakan salah satu pelanggan toko Caswati untuk membeli bumbu tabur instan sebagai bahan pelengkap camilan yang diproduksi sendiri.
Dewi, yang berdagang di samping toko Caswati, mengaku tidak pernah mendengar keluhan konsumen dagangannya. "Gak pernah ada keluhan kok. Bahkan polisi yang gerebek di sini kemarin aja makan kerupuk dan emping saya," akunya.
Namun, Dewi pun harus gigit jari dan merugi dengan penggerebekan yang terjadi di toko dan pabrik Caswati. Ibu beranak tiga ini mengaku sehari bisa meraup untung sebesar Rp60 ribu dari 20 bungkus kerupuk yang dijual. "Saat ini baik kerupuk maupun emping jualan saya belum ada satu pun yang laku," tukasnya. (J-1)