MENTEGA ganja merupakan bahan dasar pembuatan brownies ganja yang baru-baru ini diungkap Badan Narkotika Nasional (BNN). Cara membuat mentega ganja itu pun banyak terdapat di situs Youtube.
"Saya belajar dari Youtube. Intinya, setiap makanan yang berbahan dasar mentega bisa dibuat mengandung ganja. Jadi bukan hanya brownies," kata Abdul (nama samaran) saat berbincang dengan Media Indonesia, kemarin.
Aktivis gerakan legalisasi ganja itu pun mengaku setiap hari sarapan dengan roti bermentega ganja.
Bahkan, menurut Abdul, tiga tersangka yang ditangkap BNN, yakni IR, 38, YG, 23, dan HA, 37, belajar membuat mentega ganja dari Youtube. "Biasanya mentega ganja itu dibuat untuk dikonsumsi sendiri, tapi mereka menjualnya. Eh, ada anak SMP pula yang beli," kata Abdul yang juga mengenal IR sebagai sesama aktivis legalilasi ganja.
Sementara itu, situs penjualan brownies isi ganja, www.tokohemp.com, hingga kemarin masih beroperasi. Deputi Pemberantasan BNN Deddy Fauzi Elhakim mengatakan pihaknya mengajukan permohonan pada Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk menutup situs tersebut.
Pada tampilan situs www.tokohemp.com memang tidak ada pemasaran brownies, tetapi aksesori kaus, sepatu, pipa, dan aksesori ganja.
Temuan BNN, beberapa aksesori yang dijual di Plaza Blok M seperti baju dan sepatu juga terbuat dari serat ganja.
"Toko itu toko aksesori. Aksesorinya itu berbentuk narkotik. Ia menjual aksesori terkait narkoba, seperti kaus berlogo ganja dan sepatu dari serat ganja. Ada pipa bong dan jarum suntik," ujar Dedi.
Deddy menambahkan, memang sulit membedakan mana brownies yang berkomposisi ganja atau tidak. "Kita tidak bisa membedakanya, terkecuali sudah diperiksa di laboratorium," terangnya.
Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan DKI Jakarta Dewi Prawitasari mengatakan siap membantu upaya pemberantasan makanan yang mengandung narkoba. Kecolongan Pihak pengelola Plaza Blok M merasa kecolongan dengan penjualan brownies ganja tersebut. General Manager Plaza Blok M Lanny D mengatakan toko yang terletak di lantai satu blok A-7 yang disewa IR merupakan toko t-shirt, bukan untuk penjualan makanan.
"Saya kecolongan sekali dengan pengerebekan ini karena memang di sini tidak ada brownies," ujarnya.
Lanny mengatakan pernah mengecek sambil memverifikasi tenant yang menyewa toko di Plaza Blok M. Saat di toko milik IR, Lanny menemukan di sana hanya menjual baju. Toko itu pun tidak ramai pengunjung.
Toki, pedagang yang berjualan di sebelah toko IR pun tidak menemukan hal yang janggal. "Saya sering ngobrol sama dia, tapi tidak melihat ada hal-hal yang mencurigakan. Dia nggak pernah cerita jual brownies," ungkapnya. (Ars/Mal/Nel/J-3)