PENGGUNA angkutan umum di Jakarta harus sengsara menunggu angkutan yang melintas. Halte yang seharusnya menjadi tempat nyaman untuk menunggu angkutan diserobot pedagang kaki lima (PKL) dan kondisinya tidak layak.
Tengok saja halte di Jalan Lenteng Agung, tepatnya di depan Kampus Universitas Pancasila dan Halte Pomad di Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan, serta halte di depan pusat perbelanjaan ITC Cempaka Mas, Jakarta Pusat.
Alih-alih bisa duduk santai, calon penumpang terpaksa berdiri di luar halte. Terpanggang matahari ketika panas atau basah kuyup di saat hujan sudah menjadi hal yang biasa.
Kondisi halte sepanjang 6 meter di depan Universitas Pancasila, misalnya, memprihatinkan karena sudah lama tidak diperbaiki.
Cat yang berwarna biru dan hijau itu sudah pudar dan mengelupas hingga menyisakan tiang besi yang sudah karatan. Selain itu, terdapat banyak coretan yang mengganggu pandangan. Kondisi tersebut juga diperparah PKL di depan halte tersebut.
Sekitar 1 meter dari luas halte yang berukuran sekitar 6 meter terpakai untuk berjualan. Heru, 32, pedagang bakso, mengaku berjualan di halte karena di situ ramai pengunjung. ''Di sini kan ramai yang menunggu bus. Namanya juga dagang, ya, cari yang ramai,'' ujarnya.
Kondisi yang sama juga ditemukan di Halte Pomad di Jalan Pasar Minggu Raya. Halte itu diubah menjadi warung tempat menumpuk barang-barang dan minuman di pojok halte. Di Jakarta Pusat juga ditemukan kondisi serupa. Halte di depan pusat perbelanjaan ITC Cempaka Mas disesaki PKL.
Para calon penumpang terganggu oleh hal tersebut. Maya, 24, harus menunggu bus di tempat yang tidak seharusnya. Bahkan banyaknya PKL dan angkot yang mengetem membuat penglihatannya terhalang untuk mencari bus yang ditunggunya melintas.
''Pastinya terganggu, soalnya kan kita yang biasanya bisa menunggu di halte sambil duduk harus berdiri ditempat yang tidak seharusnya karena lahan dipakai PKL. Belum lagi kelewatan bus karena terhalang oleh mereka,'' ujarnya.
Nasya, 16, pelajar SMU, juga mengaku terganggu oleh keberadaan PKL di halte. ''Halte menjadi sempit dan kita jadi berdiri di luar halte karena haltenya terpakai oleh PKL. Padahal lagi panas. Seharusnya kita bisa duduk menunggu bus dengan nyaman tanpa panas-panasan,'' kata dia.
Pengawasan Kepala Satpol PP DKI Kukuh Hadi Susanto menyatakan pihaknya terus mengupayakan pengawasan di halte-halte bus kota. ''Kami lakukan secara bertahap penertibannya,'' ujar Kukuh, kemarin (Senin, 13/4/2015).
Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta Benjamin Bukit menyatakan pihaknya masih membahas wewenang pemeliharaan halte-halte angkutan umum dengan Dinas Bina Marga.
Dishubtrans telah diminta gubernur fokus menangani lalu lintas sehingga akan ada penyerahan aset ke instansi lain seperti jembatan penyeberangan orang (JPO) yang akan diberikan ke Dinas Bina Marga dan PT Trans-Jakarta. (Put/J-1)