KONDISI sejumlah pasar tradisional di Jakarta masih jauh dari nyaman karena kotor. Eksistensinya pun kian terancam karena menjamurnya mal dan pasar modern. Sepinya pengunjung bahkan membuat pedagang di beberapa pasar akhirnya berjualan di luar bak kaki lima.
Pasar Blok G Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang diresmikan Joko Widodo dua tahun lalu saat masih menjabat Gubernur DKI Jakarta merupakan salah satu pasar yang ditinggalkan pedagang dan pembeli. Padahal, pasar itu semula difungsikan sebagai lokasi penampungan pedagang kaki lima (PKL) sekitar Tanah Abang.
Gedung yang terdiri dari empat lantai itu sepi pengunjung dan banyak kios dalam keadaan kosong. Proyek pembangunan jembatan yang menghubungkan Pasar Blok G dan F yang diharapkan dapat memancing pengunjung ke Blok G sampai sekarang belum rampung. Demikian halnya lahan parkir, baru tersedia pada bagian kanan gedung pasar.
Kesan kumuh langsung terlihat di lantai dasar karena tempat penjualan sayur-mayur itu becek. Bau amis dari lapak daging dan tempat pemotongan ayam cukup menusuk hidung. Adapun untuk menuju lantai 1 dan 2, pengunjung harus melalui anak tangga dan bukan eskalator.
Di dua lantai tersebut, kios-kios yang tersedia didominasi penjualan pakaian jadi dan sebagian lantai 1 disediakan area makan (food court) seluas 1.030 meter persegi. Sementara itu, di lantai 3 tidak ada satu pun pedagang yang beraktivitas. Seluruh kios dalam keadaan kosong dan sebagian tertempel surat pemberitahuan bahwa kios sudah disegel pengelola pasar.
Manajer Unit Pasar Besar Blok G Tanah Abang Namen Suhandi saat dimintai konfirmasi mengatakan kios di lantai 3 kosong bukan karena ditinggalkan pedagang. Menurutnya, lantai itu sengaja dikosongkan pengelola untuk digabung ke lantai 2. Dari 579 kios yang tersedia, hanya diisi sekitar 20 pedagang. Apalagi, di lantai 2 masih ada kios kosong dan jenis barang yang dijual relatif sama.
"Sampai sekarang, di lantai 2 baru terisi sekitar 90% dari jumlah kios yang tersedia. Lagi pula pengunjung enggan naik sampai atas karena dagangan yang ditawarkan sama dengan yang dijual di bawah. Adanya kios yang disegel karena pedagang tidak memperpanjang kontrak setelah masa gratis selama 1,5 tahun selesai," jelasnya, beberapa waktu lalu.
Pedagang berkurang Namen mengakui Pasar Blok G kurang dilirik pengunjung antara lain karena belum tersedianya lahan parkir dan eskalator antarlantai. Kondisi itu pula yang membuat jumlah pedagang di pasar tersebut terus berkurang. Saat ini tercatat hanya ada sekitar 1.200 pedagang berjualan di pasar itu. Padahal, saat baru diresmikan pada 2013, jumlahnya mencapai 2.272 pedagang.
Sepinya jumlah pengunjung Pasar Blok G dikeluhkan salah seorang pedagang pakaian, Imron. Ia mengatakan kondisi itu antara lain terjadi karena lokasinya jauh dari pasar tekstil lainnya, yaitu Blok A dan F.
Pasar lainnya di Jakarta Pusat yang mulai kurang dilirik masyarakat dan terlihat tidak terurus ialah Pasar Jaya Rawasari.
Dilihat secara fisik, kondisi pasar lawas yang terdiri dari dua lantai itu memprihatinkan. Di lantai bawah, sebagian besar lantai putihnya telah berubah menghitam dan sebagian mengelupas.
Aktivitas perdagangan didominasi oleh pedagang pakaian jadi. Namun, pengunjungnya sedikit. Di lantai 2 banyak kios hanya ditutup dengan rangkaian susunan kayu dalam keadaan kosong.
Sementara itu, di bagian belakang lantai itu tercium bau pesing menyengat. Pada bagian kiri lantai itu juga ditemukan dua kios berukuran 4 meter persegi difungsikan sebagai tempat tinggal.
Kepala Kantor Pasar Rawasari dan Jati Rawasari Tagor Sidabutar menyatakan penghuni di kios kosong ialah karyawan pasar yang sengaja menginap lantaran rumahnya jauh. "Karyawan kami memang ada yang tidur di pasar karena rumahnya di Tangerang dan Bogor," kilahnya. (J-2)