INGAR-BINGAR suara dentuman musik dari bangunan semipermanen yang berjajar di kolong Jembatan Tinggi, Tanah Abang, Jakarta Pusat, berangsur menghilang, setelah PT Kereta Api Indonesia (KAI) menertibkan bangunan liar di sepanjang bantaran rel itu.
Meski demikian, bukan berarti cerita lokalisasi yang sudah puluhan tahun akrab di telinga orang banyak dengan sebutan bongkaran itu berhenti sampai di situ. Puluhan pekerja seks komersial (PSK) kini masih terlihat di Jembatan Tinggi, terutama saat hari mulai gelap.
Sebagian besar pengendara sepeda motor dan pejalan kaki yang melintas mendapat sapaan manja dari perempuan-perempuan berbusana minim tersebut.
Biasanya, jika antara PSK dan lelaki hidung belang terjadi kesepakatan harga, mereka melanjutkan petualangan ke sejumlah bangunan di sekitar Jalan Jati Bundar. Di dalam ruangan yang rata-rata berukuran 2,5 x 2,5 meter itu hanya tersedia tempat tidur kayu dengan kasur lusuh dan satu ember air.
"Tempatnya (kamar) enggak penting. Yang paling penting finalnya," ucap seorang laki-laki saat meninggalkan salah satu kamar.
Belakangan, jasa esek-esek tidak hanya dilakukan di tempat itu. Sejumah PSK mulai berekspansi ke depan Pasar Blok G Tanah Abang. Tempat yang dijadikan kamar ialah kios kosong di pasar yang pada 2013 tersebut.
Menurut Azis, warga Kebon Melati yang setiap hari bekerja sebagai tukang ojek di sekitar Jalan Jati Bundar, praktik itu berjalan tidak lama setelah gedung pasar berdiri. Jumlah PSK yang beroperasi makin banyak seiring gencarnya penertiban gubuk liar di kolong Jembatan Tinggi oleh PT KAI.
"Kios yang dipakai untuk prostitusi paling banyak di bagian belakang atas pasar. Tinggal buka rolling door saja dan masuk. Saya juga enggak ngerti, bagaimana PSK dapat kunci kios," paparnya.
Keberadaan PSK yang beraktivitas di Pasar Blok G makin terkuak setelah aparat gabungan dari Polda Metro Jaya, Suku Dinas Sosial DKI, dan Satuan Polisi Pamong Praja Jakarta Pusat melakukan razia bulan lalu. Di pasar itu petugas menjaring lima PSK.
"Razia dilakukan karena masyarakat resah atas keberadaan PSK di Pasar Blok G. Razia juga diakukan di sekitar lokalisasi bongkaran," jelas Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat Susan Budi Susilowati.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Jakarta Pusat Arifin menyatakan beroperasinya PSK di Pasar Blok G merupakan bukti gagalnya pengawasan oleh pengelola pasar. (DA/J-2)