Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEOLAH tak peduli pada bisingnya lalu lalang kendaraan bermotor, Wastro, 35, tetap fokus melukis foto keluarga pesanan pelanggannya di selasar ruko-ruko tua di kawasan Glodok menuju Kota Tua.
Dengan telaten ia memilih kuas mana yang akan digunakan sembari mendengarkan musik melalui earphone.
Lelaki yang mulai menekuni dunia lukis sejak 2009 ini mengaku senang melakoni pekerjaannya sebagai pelukis jalanan. Penghasilannya juga lumayan. “Seneng aja, sudah hobi juga dari kecil,” terangnya sambil menggoreskan kuasnya di atas lukisan saat dikunjungi Media Indonesia, Minggu (24/2).
Wastro merupakan salah seorang pelukis jalanan yang mangkal di sepanjang selasar ruko-ruko tua di kawasan Glodok. Ia mengaku bisa melukis seperti saat ini berkat didikan salah satu sanggar yang ada di Jakarta Utara. “Saya ikut sanggar dulu waktu 2009 di Jakarta Utara. Enam bulan belajar, nyoba berani ikut ke sini,” ungkapnya.
Dalam melakoni pekerjaannya sebagai pelukis, pria asal Pemalang, Jawa Tengah, itu mengaku kerap menemui hal-hal yang menjengkelkan. Misalnya jika menemui pelanggan yang mengajukan permintaan yang menurutnya tidak masuk di akal.
“Ya kadang dia (pelanggan) ngasih foto burem. Tidak jelas gambarnya. Saya ikutin seperti yang di foto. Kalau saya perjelas gambarnya nanti jadi tidak mirip. Belum lagi kalau ada yang minta buru-buru. Itu hasilnya pasti tidak bakal bagus,” keluhnya.
Ia bahkan tidak sungkan untuk menolak pesanan bila memang permintaan pelanggannya sukar untuk dikerjakan.
Wastro mengaku keahliannya melukis kini menurun pada anaknya. Anaknya yang paling besar dan saat ini kelas 5 sekolah dasar memenangi lomba melukis. Namun, pria yang kerap dipanggil Sipon ini tidak menginginkan anaknya menjadi pelukis jalanan seperti dirinya.
“Kalau untuk hobi aja ya tidak apa-apa, tapi kalau buat jadi profesi, ya cukup saya saja lah,” tutur pria yang juga kerap mengikuti pameran lukisan itu.
Ia mengatakan karyanya pernah dipamerkan di Museum Basoeki Abdullah, BI, Balai Budaya, hingga ke Yogyakarta.
Pelukis lainnya, Suryadi, 53, mengaku penghasilan dari melukis bisa mencukupi kebutuhan meski tidak menentu. Pesanan, kata Suryadi, terus menghampiri.
“Saya mulai dari tahun 1992. Dulu pelukis di sini bisa dihitung pakai jari. Sekarang menjamur. Dari 1992 itu saya melukis, Alhamdulillah bisa beli rumah sendiri,” katanya sambil terkekeh.
Menelisik lebih jauh soal penghasilan yang didapat, baik Suryadi maupun Sipon mengakui dalam sekali mengerjakan lukisan keduanya bisa mendapatkan Rp200 ribu hingga Rp300 ribu.
“Ya makin besar ukurannya makin tinggi harganya. Apalagi kalau medianya kanvas, bukan kertas, bisa jauh lebih tinggi. Tergantung ukuran sama tingkat kesulitan saja sih,” tandas Sipon.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved