Sampah yang Diangkut ke Bantargebang Ditargetkan Berkurang 10%

Antara
06/2/2019 19:58
Sampah yang Diangkut ke Bantargebang Ditargetkan Berkurang 10%
(MI/Gana buana )

DINAS Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta harus mengurangi 10% sampah harian yang diangkut ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

Jumlah tersebut sama dengan 600 ton hingga 700 ton sampah perhari. Ini adalah salah satu langkah yang harus ditempuh guna memperpanjang usia daya tampung Bantargebang.

"Saat ini jumlah sampah di Bantargebang mencapai 39 juta meter kubik. Titik puncaknya 49 juta meter kubik yang diperkirakan akan penuh pada 2021. Oleh karena itu, kita harus kurangi agar bisa diperpanjang jangan sampai penuhnya di 2021," kata Kepala DLH, Isnawa Adji usai rapat dengan Komisi D DPRD DKI Jakarta, Rabu (6/2).

Upaya pengurangan sampah sebetulnya sudah dilakukan oleh DLH melalui sosialisasi baik dilakukan lewat media sosial, pekerja harian lepas (PHL) DLH, kegiatan bank sampah, hingga hukuman denda tindak pidana ringan bagi pelaku pembuang sampah sembarangan.

"Jumlah bank sampah kita sudah 1500. Memang perlu ditingkatkan lagi. Tapi tidak mudah memang mengaktifkan bank sampah. Perlu kader yang berkomitmen," ujarnya.

Selain itu, ia juga menegaskan pemilahan sampah dan pengurangan sampah bukan hanya tugas DLH melainkan juga tugas berbagai pihak.

"Harus mulai dari camat, lurah, RW sampai yang terkecil RT semua harus masif melakukan sosialisasi pengurangan sampah dan pemilahan sampah untuk dikumpulkan ke bank sampah," tegasnya.

Ia juga menjelaskan penuhnya beban TPST Bantargebang dalam dua tahun ke depan juga disebabkan lambatnya proses pembangunan sarana pengelolaan sampah terpadu atau 'Intermediate Treatment Facility' (ITF).

Menurut Isnawa, ITF dijadwalkan mulai dibangun pada 2016. Tapi akibat berbagai kendala seperti ketersediaan lahan hingga payung hukum karena harus melibatkan pemerintah pusat, ITF pertama di Jakarta serta di Indonesia itu baru dibangun 2016 di Sunter, Jakarta Utara dengan kapasitas pengelolaan 2000 ton sampah perhari.

"Jadi seharusnya menurut rencana induk pengelolaan sampah Jakarta, kita sekarang sudah punya 5 ITF untuk tiap wilayah. Sampah yang diangkut ke Bantargebang idealnya adalah residu dari ITF sekitar 100% dari kapasitas. Tapi, karena ITF tidak jalan sekarang jadi terbalik. Semua diangkut ke Bantargebang," ungkapnya.

Tahun ini DLH pun menganggarkan Rp 750 miliar dana APBD guna membeli lahan untuk dibangun ITF. Namun, dirinya tidak dapat memastikan lokasi lahan yang akan dibangun ITF. Sebab, banyak faktor yang harus dipertimbangkan agar suatu lahan bisa digunakan sebagai lokasi ITF.

"Saya tidak bisa pastikan lokasinya. Sekarang tim DLH seleksi lahan-lahan yang diajukan warga untuk dibeli. Kalau cocok seperti berada di zona industri, listrik ada, air, dan segala macam kriteria memenuhi untuk dibangun ITF, maka kami beli," tegasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya