Perangi DB, Pemprov Luncurkan DBD-Klim

Put/Ssr/J-3
06/2/2019 05:30
Perangi DB, Pemprov Luncurkan DBD-Klim
(MI/Susanto)

PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta terus berinovasi guna memerangi wabah demam berdarah. Pada awal pekan ini, Gubernur Anies Baswedan meluncurkan program DBD-Klim.

“Melalui inovasi ini, kami berharap informasi cepat mengenai prediksi kejadian DBD. Dengan info cepat itu, setiap satuan kerja perangkat daerah dan unit kerja perangkat daerah mampu melakukan langkah antisipasi penyebaran dan pencegahan penyakit sedini mungkin di wilayah masing-masing,” tutur Anies, kemarin.

Program itu merupakan bentuk kerja sama antara Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, serta didukung Institut Teknologi Bandung. DBD-Klim merupakan program peringatan dini penyakit demam berdarah berbasis iklim.

Inovasi itu merupakan sistem aplikasi informasi daring berbasis web (dbd.bmkg.go.id) yang dapat menunjukkan prediksi angka penyakit demam berdarah di setiap kota administratif di DKI Jakarta. Curah hujan dan kelembapan udara digunakan sebagai prediktor utama.

Upaya menekan angka kejadian DB juga dilakukan Dinas Kesehatan DKI Jakarta dengan merangkul dan bekerja sama dengan banyak pihak. Di antaranya Kementerian Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, dan BMKG.

“Kami terbuka untuk bekerja sama dengan pihak mana saja. Selain Kemenkes, kami juga bekerja sama dengan para akademisi,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti.

Ia juga mengaku tertarik be­kerja sama dengan ilmuwan dari Universitas Gadjah Mada yang mampu merekayasa nyamuk Aedes aegypti yang dimandulkan. “Kami ingin bekerja sama jika inovasi itu terbukti berhasil,” tambah Widyastuti.

Sampai kemarin, jumlah warga terjangkit DB di Jakarta mencapai 876 orang. Langkah yang sudah diambil dinas kesehatan di antaranya fokus pada pe­ngen­dalian vektor, penguatan sistem surveilans epidemiogi, penguatan kompetensi SDM di area fasilitas kesehatan publik, dan edukasi promotif melalui berbagai media.

“Petugas jumantik (juru pemantau jentik) juga kami do­rong melalui wali kota agar terus melakukan pemantauan jentik nyamuk dan edukasi masyarakat soal pemberantasan jentik nyamuk,” tandas Widyastuti.

Sebelumnya, Anies membuat kebijakan menggratiskan warga yang terjangkit DB untuk dirawat di RSUD seluruh Jakarta. “Selain gratis, fasilitas di RSUD juga tidak kalah dengan rumah sakit dan klinik swasta,” tegasnya.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya