Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI Toni, 30, dan warga lain di Kelurahan Marunda, Cilincing, Jakarta, gumpalan putih di atas aliran kali Kanal Banjir Timur (KBT)bukan pemandangan luar biasa. Sejak 2012, gumpalan yang merupakan sisa sabun cuci alias detergen itu mulai muncul.
"Sudah lama itu. Tidak pernah hilang. Bahkan, setiap hujan, gumpalan busanya lebih banyak karena pintu air dibuka," tutur Toni, pekan lalu.
Terganggu? Toni menggeleng. "Warga di sini mah sudah biasa," tambahnya.
Meski dinilai biasa, busa di Marunda menjadi-jadi mulai Maret 2018 lalu. Keluhan warga di media sosial pun membuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai melirik. Hanya saja, sampai sekarang, solusi menyeluruh belum bisa dilakukan.
"Busa itu merupakan limbah rumah tangga. Memang tidak hanya berasal dari aktivitas langsung warga di bantaran KBT, tapi merupakan akumulasi pembuangan dari rumah-rumah melalui pipa pembuangan," ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji.
Dari penelusuran Media Indonesia, busa sudah muncul di pintu air Duren Sawit dan pintu air Harapan Indah sebelum masuk ke KBT. Kedua pintu air itu berhulu di Cipinang, Jakarta Timur.
Namun, perdebatan asal busa itu tidak lagi jadi pikiran Isnawa. Ia memastikan penyebab utama yang harus diselesaikan ialah penggunaan hard detergent yang mengandung bahan tidak ramah lingkungan seperti fosfat.
Kandungan fosfat sudah tidak digunakan lagi di negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan negara-negara Eropa. Kandungan fosfat dinilai tidak ramah lingkungan.
Selain memicu busa, fosfat dalam air menyebabkan eutrofikasi alga yang menghambat penetrasi cahaya dan oksigen masuk ke air sehingga mengakibatkan kematian organisme di dalam ekosistem.
Upaya yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta sejauh ini masih sebatas penanganan jangka pendek. Salah satunya dengan menyirami busa di aliran KBT dengan air agar busa dapat cepat terurai.
Pekerjaan itu dilakukan petugas berseragam oranye. Saat mereka bertugas di sekitar KBT dan melihat perairan itu dipenuhi busa, para petugas langsung menyiramnya dengan air sampai efek busa hilang. Pekerjaan tersebut cukup melelahkan karena harus dilakukan dari satu titik tumpukan busa ke titik lain.
"Kami belum dapat berbuat maksimal untuk menghentikan dan menghilangkan busa di perairan Jakarta selama hard detergent yang mengandung fosfat masih beredar di pasaran. Dibutuhkan kerja sama antarinstansi pemerintahan untuk menyelesaikan masalah ini," paparnya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, lanjutnya, akan menyurati instansi terkait agar dapat membatasi pemasaran produk hard detergent dan menggantinya dengan produk soft detergent yang ramah lingkungan.
"Gubernur meminta supaya kami berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan terkait dengan upaya mengikis peredaran hard detergent dan menggantinya dengan soft detergent. Kami juga melakukan penanganan di lapangan," lanjut Isnawa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved