Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA 15 Januari lalu, Trans-Jakarta sudah menapaki usia yang ke-15. Peluncuran koridor I yang menghubungkan Blok M - Stasiun Kota oleh Gubernur Sutiyoso pada 2004 itu menjadi jejak sejarah bahwa Jakarta menjadi kota pertama yang mengoperasikan sistem transportasi bus rapid transit (BRT) di Asia Tenggara dan Selatan.
Saat ini, Trans-Jakarta memiliki lintasan terpanjang di dunia, yakni 251,2 kilometer. Bus-bus Trans-Jakarta melayani 13 koridor, memiliki 260 halte, dan beroperasi 24 jam.
Meski sudah cukup lama melayani warga Jakarta, sejumlah pekerjaan rumah masih harus diselesaikan, di antaranya kenyamanan halte dan sterilisasi jalur busway.
Kurangnya kenyamanan di halte ini dirasakan Media Indonesia saat menjajal koridor 9A yang menghubungkan Pusat Grosir Cililitan hingga Pluit. Pemandangan di halte Cawang UKI, Jakarta Timur, menjadi pembuka keheranan.
Seperti kompak, hampir semua pengguna Trans-Jakarta memakai masker untuk menutupi hidung dan mulut mereka. Selidik punya selidik, mereka menggunakan masker karena di halte terbuka itu banyak asap sisa pembuangan kendaraan yang lalu lalang dari arah barat dan timur.
"Haltenya padat sehingga banyak kendaraan di sini. Asapnya sangat mengganggu," tutur seorang warga.
Saat dikonfirmasi Direktur Operasional Trans-Jakartaep Daud Josh mengakui kenyamanan halte merupakan salah satu fokus kerja perusahaannya. Sejak beroprasi hingga tahun ini, halte Trans-Jakarta tidak ada perubahan secara signifikan sehingga butuh pembenahan.
"Kenyamanan halte memang jadi salah satu pekerjaan rumah perusahaan. Kami masih terus mengupayakan pelayanan terbaik untuk pengguna Trans-Jakarta," terangnya, akhir pekan lalu.
Jalur Trans-Jakarta
Satu masalah besar lainnya ialah banyaknya kendaraan pribadi yang memasuki jalur Trans-jakarta. Beragam cara sudah dilakukan untuk mencegah, tetapi ketidaktaatan masih terus terjadi.
Untuk itu, pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengusulkan aparat kepolisian menerapkan kebijakan e-tilang bagi kendaraan yang menerobos masuk ke jalur itu. E-tilang dipredikasi bisa menimbulkan efek jera.
"Banyak edukasi dan sosialisasi untuk membuat pengendara tidak masuk jalur khusus Trans-Jakarta. Namun, sampai sekarang penerobosan masih terjadi karena tidak adanya efek jera," jelas pengajar di Universitas Katolik Soegijapranata itu.
Ia memaparkan jalur Trans-Jakarta yang steril akan membuat bus-bus itu mampu melakukan efisiensi waktu tempuh. Ketepatan waktu itulah yang akan menjadi daya tarik bagi pengguna kendaraan pribadi dan beralih menggunakan transportasi massal, seperti Trans-Jakarta. "Dengan meningkatnya minat warga untuk menggunakan Trans-Jakarta, seharusnya berbanding lurus dengan peningkatan pelayanan dan perbaikan fasilitas penunjangnya," tandas Djoko.
Manajemen Trans-Jakarta dalam tiga tahun terakhir melakukan pembenahan besar-besaran. Dari jumlah armada, misalnya, dari semula 300 unit menjadi 2.100 unit. Pengguna pun meningkat dari 200 ribu per hari pada 2016, saat ini menjadi 700 ribu per hari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved