Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BABAK baru penyelidikan kasus jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX 8 milik maskapai penerbangan Lion Air dimulai. Kemarin, Pusat Hidro-oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) mengumumkan tim mereka telah menemukan cockpit voice recorder (CVR) yang menyimpan rekaman suara kokpit pesawat.
"CVR ditemukan Kapal Republik Indonesia Spica-934 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Kapal itu bertugas mencari CVR dan human remains Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan tersebut, Senin, 29 Oktober 2018," papar Kepala Pushidrosal Laksamana Muda Harjo Susmoro, kemarin.
Setelah temuan itu, Kepala Komite Nasional Keselamat-an Transportasi Soerjanto mengatakan proses peng-unduhan kotak hitam CVR akan dilakukan maksimal lima hari. "KNKT melakukan proses pengeringan dan pengunduhan data. Proses ini tiga sampai lima hari sampai data terunduh."
Dia mengatakan tidak akan membuat laporan awal (preliminary report). Hasil investigasi langsung disampaikan pada hasil akhir (final report) maksimal satu tahun setelah kejadian.
Lebih jauh Harjo Susmoro menyakini data CVR tidak rusak meski fisik benda itu sudah banyak tergores di sisi luar.
"CVR punya kekuatan untuk tahan guncangan 200 G. Akibat guncangan saat jatuh hanya menyebabkan lecet secara fisik, tapi di dalamnya masih tahan."
Karena itu, dalam banyak kecelakaan pesawat, kotak hitam itu tidak ada yang dilaporkan rusak. "Belum ada yang ditemukan rusak," tandas Harjo.
Dalam upaya pencarian CVR, dia mengungkapkan Pushidrosal digandeng KNKT. Selain KRI-934, Pushidrosal mengerahkan 18 penyelam dari Dinas Penyelamatan Bawah Air, Komando Armada RI Kawasan Barat RI TNI Angkatan Laut, dan 3 penyelam Komando Pasukan Katak.
"Mereka melaksanakan penyelaman di lokasi. Pada pukul 08.40 WIB, Serda Satria Margono menemukan CVR itu," lanjut Harjo.
CVR Lion Air ditemukan di kedalaman lebih dari 30 meter di bawah permukaan laut. Kondisi dasar laut yang berlumpur sempat menyulitkan penyelam dalam meng-evakuasi CVR.
Benda itu tertimbun lumpur setebal 8 meter. Lumpur pekat menyulitkan penyelam karena menggangu jarak pandang.
Sebelumnya, tim pencari telah menemukan flight data recorder atau rekaman data penerbangan pesawat pada Kamis, 1 November 2018. Untuk mencari CVR, KRI Spica-934 berangkat dari Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Selasa (8/1).
Kapal itu membawa 55 anak buah kapal, 9 personel KNKT, 18 penyelam, dan 6 ilmuwan. Tim yang dipimpin Letkol Laut (P) Hengky Iriawan itu memiliki waktu 15 hari untuk mencari CVR. Mereka membawa sejumlah peralatan canggih, di antaranya multibeam echosounder, sub-bottom profiling, magnetometer, dan side scan sonar.
"Pencarian dilakukan di area seluas 5x5 meter, dengan radius 50 meter dari lokasi ditemukannya FDR," tandas Harjo.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved