Pengendalian Banjir Tak Cukup Hanya Lewat Upaya Struktural

Dero Iqbal Mahendra
26/12/2018 21:45
Pengendalian Banjir Tak Cukup Hanya Lewat Upaya Struktural
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro )

MENTERI PUPR Basuki Hadimuljono menegaskan meski pemerintah saat ini telah melakukan berbagai upaya pembangunan fisik untuk mengatasi banjir di Jakarta. Namun Basuki menekankan bahwa hal tersebut tidak cukup, namun juga harus didukung dengan kegiatan non struktural seperti kampanye penyadaran masyarakat, tata ruang (zonasi), dan pembuatan berbagai sumur resapan di lingkungan rumah masing-masing.

Sebagaimana diketahui pemerintah kini membangun Bendungan Sukamahi dan juga Bendungan Ciawi untuk melengkapi sistem penanggulangan banjir di DKI Jakarta dari sisi hulu. Dengan dibangunnya kedua waduk tersebut diharapkan akan turut berkontribusi mengurangi debit banjir di hulu Ciliwung sekitar 30%.

Berdasarkan data per 26 Desember 2018, progres konstruksi Bendungan Sukamahi sebesar 14 persen, dengan progres lahan yang sudah bebas seluas 18,6 hektar atau 38,68% dari kebutuhan 46,69 hektar. Sedangkan untuk progres konstruksi Bendungan Ciawi sebesar 9,22%, progres pengadaan lahan yakni sudah dilakukan pembayaran 24,03 hektar atau 31,73% dari total kebutuhan 76,6 hektar.

Pengadaan lahan saat ini dilakukan dengan skema dana talangan dimana kontraktor membiayai terlebih dahulu dan nantinya akan dibayarkan melalui Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN).

Pembangunan kedua bendungan tersebut merupakan upaya Pemerintah di hulu Sungai Ciliwung untuk mengurangi kerentanan kawasan strategis nasional (KSN) Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dari bencana banjir.

Dua bendungan kering yang dibangun oleh Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane juga merupakan bagian dari rencana induk pengendalian banjir (flood control) Jakarta.

Sebelumnya Presiden Jokowi mengamanatkan untuk terus diselesaikan penanganan di bagian hilir diantaranya normalisasi Sungai Ciliwung dan pembangunan sudetan yang memerlukan peran aktif Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Selain itu juga diperlukan pembersihan drainase, sungai-sungai kecil, dan pemeliharaan waduk eksisting yang ada di Jakarta.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR Hari Suprayogi mengatakan, saat ini pekerjaan konstruksi kedua bendungan tersebut memasuki tahap pembuatan saluran pengelak (conduit).

"Semua masih tahap konstruksi saluran pengelak di kedua bendungan. Nantinya kita akan menutup aliran sungai dan mengalihkannya ke saluran pengelak. Selanjutnya pembangunan pondasi tubuh bendungannya," jelas Dirjen SDA Hari Suprayogi.

Bendungan Sukamahi dan Ciawi merupakam bendungan tipe kering (dry dam) sehingga pada musim kemarau akan kering dan baru akan digenangi saat musim hujan. Kedua bendungan memiliki daya tampung 8,13 juta meter kubik dan berfungsi menahan aliran permukaan yang berasal dari daerah hulu Gunung Gede dan Gunung Pangrango selama kurang lebih 4 jam dan mengalirkannya ke Sungai Ciliwung melalui terowongan secara konstan dengan debit rencana Q50.

Kontrak pembangunan Waduk Ciawi ditandatangani pada 23 November 2016 antara Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) dengan kontraktor PT Brantas Abipraya-Sacna KSO dengan nilai pekerjaan konstruksi Rp 757,8 miliar melalui kontrak tahun jamak (multi years). Waduk ini menampung aliran Sungai Cisarua, Sungai Cibogo dan anak Sungai Ciliwung dengan volume tampungan 6,45 juta m3.

Sementara penandatanganan kontrak pembangunan Waduk Sukamahi dengan daya tampung 1,68 juta m3, senilai Rp 436,97 miliar dilakukan pada 20 Desember 2016 dengan kontraktor PT Wijaya Karya-Basuki KSO. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya