Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SATUAN Polisi Pamong Praja DKI Jakarta akan menggandeng Badan Musyawarah (Bamus) Betawi untuk membahas rencana penertiban pengamen ondel-ondel. Hal itu sebagai tindak lanjut dari perintah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta karena ondel-ondel yang digunakan untuk mengamen sudah mengganggu ketertiban umum.
"Ini menyangkut adat dan kebudayaan Betawi. Kita akan koordinasi dulu dengan sesepuh dan pengurus Bamus Betawi, bagaimana perkembangan kegiatan ondel-ondel di luar," kata Kepala Satpol PP Yani Wahyu, kemarin.
Sebelum sampai ke pener-tiban, sambungnya, pihaknya akan lebih dulu menyosialisasikan imbauan kepada sanggar-sanggar seni Betawi untuk tidak menggunakan ondel-ondel sebagai alat untuk mengamen di jalan.
"Sehingga penanganannya nanti tidak menimbulkan masalah baru," ujarnya.
Hasil musyawarah dengan Bamus Betawi itu, nantinya akan jadi masukan bagi Pemprov DKI untuk menyikapi persoalan semrawutnya pengamen ondel-ondel di Ibu Kota. Terpenting, untuk menjaga ketertiban umum.
"Tapi kalau nanti sudah mengarah pada ketidakter-tiban, ya tentu harus ditertibkan. Kita semua mengharapkan Jakarta tetap tertib ya," pungkas Yani.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (PlT) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Asiantoro mengatakan rencana penertiban akan dilaksanakan dalam waktu yang tidak akan lama lagi. Pasalnya, keberadaan pengamen ondel-ondel saat ini sudah banyak dikeluhkan warga.
"Karena kadang-kadang meresahkan. Saya pernah dipaksa memberi uang, dia enggak tahu saya PlT Kadisparbud. Nah kami tertibkan dan akan dibina," kata dia.
Asiantoro menjelaskan, penertiban tentunya dengan upaya pendekatan secara kekeluargaan sehingga pembinaannya juga akan lebih mengarah ke pemahaman mereka akan substansi kesenian ondel-ondel tersebut.
"Kami mengajak pengamen ondel-ondel mengikuti seni yang baik. Diupayakan untuk jadi grup yang bagus. Di tempat-tempat wisata, kami akan minta spot untuk tampil di situ, apakah dia mencari insentif dari tempat wisata itu atau dia dibolehkan mengamen," terangnya.
Keluar pakem
Saat dimintai pendapatnya, Tokoh Forum Pengkajian Betawi, Yahya Andi Saputra, mengaku prihatin atas maraknya pengamen ondel-ondel saat ini. Bukannya untuk pelestarian budaya, ondel-ondel lebih digunakan sebagai alat untuk mencari duit.
Hiburan ondel-ondel yang dimainkan para pengamen itu pun dinilainya sudah asal-asalan. "Tidak ada lagi keindahan dan hiburan, apalagi rasa seni dari ondel-ondel," keluh Yahya.
Para pengamen ondel-ondel, lanjutnya, saat ini sudah tidak menghiraukan pakem-pakem. Misalnya, ondel-ondel itu, pertama harus sepasang karena itu simbol dari keseimbangan alam semesta.
"Ada laki-laki, ada perempuan. Ada siang, ada malam. Ada jahat, ada baik. Nah, itu yang harusnya dipatuhi. Kalau sekarang, ondel-ondel itu hanya satu, nah itu mau menyimbolkan apa?" gugatnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved