15 RS Baru Siap Layani Warga DKI

MI/PUTRI ANISA YULIANI
01/4/2015 00:00
15 RS Baru Siap Layani Warga DKI
(Sumber: Pemprov DKI Jakarta/Grt/Foto: MI/ARYA/Grafis: CAKSONO)
SEBANYAK 15 dari 44 puskesmas tingkat kecamatan di DKI Jakarta berubah menjadi rumah sakit (RS) tipe D mulai hari ini. Pengubahan tiga puskemas lain yang semula juga akan menjadi RS ditunda karena belum siap.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Koesmedi mengatakan dinaikannya puskesmas menjadi RS dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Jumlah penduduk di setiap kecamatan semakin padat sehingga membutuhkan pelayanan serbacepat sebelum menuju RS besar seperti rumah sakit umum daerah (RSUD).

"Kalau hanya puskesmas seperti sekarang, (masyarakat) tidak bisa terlayani. Bukan karena masalah kuantitas pasien, melainkan lebih kepada (meningkatkan) kualitas pelayanannya. Kalau ditingkatkan jadi rumah sakit tipe minimal, ada dokter spesialis dan peralatan lebih lengkap," kata Koesmedi kepada Media Indonesia, beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan pelayanan yang terdapat di RS tipe D dan tidak dimiliki puskesmas ialah hadirnya dokter spesialis. Setiap RS tipe itu minimal memiliki dua dokter spesialis, yakni dokter spesialis penyakit dalam serta spesialis anak.

Menurutnya, program peningkatan standar pelayanan dari puskesmas kecamatan menjadi RS direncanakan sejak tahun lalu. Awalnya ada 18 puskesmas kecamatan yang akan ditingkatkan, tetapi tiga di antaranya ditunda lantaran puskesmas penggantinya belum siap. Yaitu Puskesmas Kecamatan Kebayoran Lama, Menteng, dan Pasar Rebo. Koesmedi menyebutkan puskesmas pengganti di tiga kecamatan belum memadai.

Peningkatan ketiga puskesmas menjadi RS baru akan dilakukan pada 2016 bersama dengan 29 puskesmas kecamatan lainnya sehingga tahun depan 44 kecamatan di DKI semuanya memiliki RS tipe D. "Tiga puskesmas belum siap antara lain karena lahannya belum memadai. Ada yang sangat kecil lalu tidak ada lift. Nanti kita usulkan untuk bangun baru saja di 2016. Sekaligus dengan 29 kecamatan lainya," tuturnya.

Ia juga mengatakan rekrutmen direktur RS dilakukan melalui sistem lelang jabatan di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DKI. Sementara itu, persiapan perubahan manajemen dari puskesmas menjadi RS dilakukan sejak Januari lalu.

Biaya Rp20 miliar

Selain persiapan perubahan manajemen, Dinas Kesehatan DKI ketika itu menyiapkan puskesmas baru yang menggantikan puskesmas kecamatan yang diubah menjadi RS. Pengganti merupakan puskesmas tingkat kelurahan yang ditingkatkan menjadi puskesmas kecamatan.

Dalam proses pengembangan setiap RS, ujar Koesmedi, dari segi rehabilitasi gedung serta pengadaan alat-alat kesehatan menelan biaya hingga Rp20 miliar per RS. Biaya tersebut diambil dari APBD tahun lalu. "Persiapannya macam-macam. Ada renovasi, penambahan alat, dan kami juga harus menyiapkan puskesmas pengganti," katanya.

Dari 15 puskesmas yang berubah menjadi RS 4 di ataranya berada di Jakarta Pusat, 3 di Jakarta Utara, 2 di Jakarta Barat, 4 di Jakarta Selatan, dan 2 lagi berada di Jakarta Timur.

Di Jakarta Pusat (Jakpus) persiapan fasilitas pada empat RS sudah rampung. Keempat puskesmas yang ditingkatkan menjadi RS ialah Puskesmas Cempaka Putih, Johar Baru, Kemayoran, dan Sawah Besar. Namun, menurut Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakpus Reggy Stevanus Sobari, untuk sementara penanganan bedah akan dilakukan di RS Tarakan sebagai RS pengampuh karena ruang instalasi operasi di empat RS eks puskesmas masih dibangun.

"Tenaga bedah sudah disiapkan di RS Tarakan. Nanti jika ada pasien yang membutuhkan, tinggal dibawa saja kesana. Saat ini, pembangunan kamar bedah di puskesmas memang masih berjalan," terangnya, kemarin.

Terkait dengan layanan rawat inap, ujarnya, setiap puskesmas selama ini sudah memberikan pelayanan itu sehingga ketika berubah menjadi RS, hanya tinggal menambah fasilitas. (DA/J-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya