Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RATUSAN kios di Pasar Cisalak ditinggalkan pedagang. Menjamurnya pedagang kaki lima, tumpukan sampah yang menghasilkan aroma tidak sedap, hingga sepinya pembeli menjadi alasan pedagang meninggalkan kios di Pasar Cisalak.
Akibatnya, pasar semi modern bertingkat empat yang di bangun menggunakan dana APBD Kota Depok 2015 sebesar Rp168 miliar itu, terbengkalai.
Kepala Pasar Cisalak Sutisna mengakui ada 442 dari 1,356 kios, los dan gudang yang kosong di pasar tersebut memang di tinggal pedagang, lantaran penjualan sedang sepi.
“Sebanyak 442 pedagang pasar eksodus lantaran sepi pembeli. Itu yang membuat mereka mengeluh dan memilih untuk pindah jualan ke simpang Jalan Raya Bogor dan Jalan Koja,” ujarnya, Mingu (9/12).
Baca juga: Pasar Cisalak Depok Butuh Perubahan
Betty, 31, pedagang sayur mengatakan, kios tersebut sudah lama tidak ditempatinya lantaran pembeli lebih suka berbelanja di lapak pedagang kaki lima (PKL) dan pasar Koja yang berada di depan.
“Kami sempat jualan di sini selama enam bulan atau tak lama selesai dibangun dan diresmikan. Itu pun karena diperintahkan pengelola pasar. Kalau ada pembeli, tentu kami tetap bertahan di sana. Tapi kalau sepi, kami terus merugi,” keluhnya.
Warga Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis itu menceritakan, yang membuat pedagang merasa kecewa, pengelola pasar tidak mencarikan solusi agar pembeli mau kembali berbelanja di kios Pasar Cisalak. Mereka justru tutup mata ketika pengembang membangun kios baru di Jalan Koja yang letak lokasinya berhadap-hadapan dengan pasar. Hal ini membuat para pedagang geram.
“Sekarang di bagian samping pasar sudah ada kios baru. Sekarang, di bagian depan pasar atau jalan masuk ke pasar dari simpang Raya Bogor menjamur PKL. Padahal, dulu kami diusir berdagang di sana dan direlokasi ke kios baru di pasar, dengan alasan agar lebih tertata rapi dan akan digunakan untuk lahan parkir,” jelasnya.
Keluhan lain juga disampaikan pedagang buah, Sulaiman, bahwa pengelola pasar tak mampu memagar jalan simpang Raya Bogor menuju ke pasar. Pemerintah Kota Depok lewat Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Depok mengalokasikan dana APBD 2018 sebesar Rp1,5 miliar, untuk pemagaran jalan simpang Raya Bogor ke pasar sehingga pedagang liar tak nekad lagi berjualan disana. Namun, hingga saat ini pun belum juga dipagar.
"Dalam hal ini kita (pedagang) merasa dirugikan. Tapi sepertinya pemerintah tidak memerhatikan nasib kami, padahal kios tersebut dibeli seharga Rp3 juta per kios,” bebernya. (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved