Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TANAH di bekas longsoran di Jalan Raya Puncak, atau tepatnya di titik Riung Gunung, yang saat ini sedang proses pengerjaan perbaikan, retak lagi.
Bahkan, berdasarkan pantauan di lapangan, Kamis (29/11), besaran retakan kian melebar dan mengakibatkan juga pada penurunan tanah.
Panjang retakan saat ini mencapai sekitar 20 meter, dengan lebar 30 sentimeter dan kedalaman retakan mencapai 2 hingga 3 meter. Untuk penurunan tanahnya dalamnya sekitar 20 hingga 50 sentimeter.
Retakan juga menyebar di beberapa titik bibir badan jalan nasional penghubung Bogor-Cianjur-Bandung ini.
Seperti diberitakan, kejadian seperti itu bukan untuk yang pertama. Longsor skala kecil dan sedang beberapa kali terjadi di titik itu. Terparah terjadi pada Februari 2018. Akibat peristiwa itu, yang juga terjadi di titik lainnya di jalur tersebut, pemerintah pun sempat menutup jalur Puncak selama 15 hari mulai dari Gunung Mas hingga Cipanas bagi kendaraan roda empat.
Adapun untuk kendaraan besar seperti bus hingga saat ini penutupan masih berlaku.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melakukan perbaikan di jalur tersebut. Hingga saat ini, pengerjaan masih dalam proses dan diperkirakan rampung akhir tahun ini.
Sementara itu, terkait penyebab keretakan di lokasi bekas longsor tersebut, selain karena kondisi cuaca, juga disebabkan dari getaran kendaraan besar.
Seperti yang diungkapkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Metropolitan II Jakarta Kementerian PUPR, Elsa Putra Fitriadi, di lokasi Kamis.
Elsa Putra mengatakan, retakan tebing di Riung Gunung terjadi karena masih ada kendaraan besar seperti truk dan bus yang melintas di kawasan itu.
Dia menyebut, berdasarkan dari laporan pekerjanya, belakangan ini masih banyak kendaraan besar seperti truk atau bus besar yang masih melewati jalur terlarang itu. Baik pada siang atau pun malam hari.
"Masih ada yang nyuri-nyuri lewat situ. Begitu laporan pekerja proyek," katanya.
Pihaknya berharap keretakan itu tidak berdampak atau menyebabkan terjadinya longsor. Dia mengatakan, di titik itu atau di tebing yang longsor itu sudah dibangun pondasi berbentuk tabung atau bore pile. Selain itu juga sudah dibuat retaining wall 3 meter.
Dia mengatakan, proses perbaikan kini tinggal pengecoran lagi secara full, setinggi jalan. Hal itu bertujuan agar retakan bisa ditimbun tanah.
Soal masih adanya kendaraan ukuran besar yang melintasi jalur tersebut, tidak dibantah oleh pihak kepolisian setempat.
Seperti diungkapkan KBO Lantas Polres Bogor Iptu, Vino Lestari, yang membenarkan masih banyak truk dan bus berukuran besar melintasi kawasan Gunung Mas hingga Ciloto. Dan diakuinya pihaknya masih memberikan toleransi, karena alasan khusus yakni menyangkut kebutuhan masyarakat.
Hanya saja, dirinya atau pihaknya tidak menyebutkan truk, bus atau kendaraan besar dari instansi mana yang masih dan sering melintasi jalur tersebut. Pihaknya beralasan tidak ingin terjadi benturan.
Namun dia menjelaskan, terkait dengan kebijakan pembatasan atau larangan kendaraan besar seperti trum atau bus melalui Riung Gunung, pihaknya atau Polres Bogor, telah melayangkan surat tembusan kepada Korlantas Polri hingga Polisi Militer.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Sumardi, mengatakan, untuk status kebencanaan di seluruh wilayah Kabupaten Bogor adalah status siaga bencana.
"Status bencana di Kabupaten Bogor, siaga bencana, terhitung mulai 1 Nopember hingga 31 Maret," katanya Kamis sore.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, lanjut dia, pihaknya bekerja sama dengan kepolisian akan membuat pos-pos khusus. Terutama di titik-titik atau zona rawan. Seperti di jalur Puncak atau di Riung Gunung, pihaknya bersama Polres Bogor akan menyiagakan pos yang beroperasi 24 jam. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved