Pelaku Sadisme Minim Kecerdasan Emosional

Haufan Hasyim Salengke
25/11/2018 10:30
Pelaku Sadisme Minim Kecerdasan Emosional
(Ilustrasi)

PERISTIWA pembunuhan yang terjadi di Indonesia telah mencapai 625 kasus dari Januari hingga Oktober 2018. Hingga pekan ini, Markas Besar Kepolisian RI menyatakan berhasil mengungkap sebanyak 574 kasus pembunuhan.

Di antara ratusan kasus pembunuhan itu, dalam dua pekan terakhir terjadi tiga kasus pembunuhan besar di wilayah Jabodetabek yang menyita perhatian publik nasional.

Pertama, pembunuhan keluarga Diperum Nainggolan di Kota Bekasi, Selasa (13/11), oleh Haris Simamora yang dipicu masalah sakit hati. Kedua, pembunuhan Abdullah Fitri alias Dufi, warga Bogor, yang jasadnya ditemukan dalam drum setelah dibunuh pasangan suami istri pada Minggu (18/11). Ketiga, pembunuhan Ciktuti Puspita, seorang pemandu karaoke, yang tewas di tangan dua rekannya sendiri setelah cekcok masalah tip di Mampang, Jakarta Selatan, Kamis (22/11).

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo menyebut motif yang melatari pelaku pembunuhan yang telah memiliki hubungan dengan korban lebih sering diwarnai masalah pribadi.

Yang termasuk masalah pribadi itu antara lain kesulitan ekonomi, ketersinggungan, dendam, dan ketidakmampuan berkomunikasi dalam memecahkan persoalan dengan korban.

Dalam kesempatan berbeda, mantan Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menjelaskan pada kasus-kasus pembunuhan, termasuk yang sadistis, kemungkinan yang kerap terjadi ialah pelaku merupakan orang dekat ataupun mengenal sang korban.

"Mereka saling mengenal sehingga hal ini pun menjadi dasar penyelidikan. Baik korban maupun pelaku mungkin saling kenal," papar Setyo, kemarin.
Multifaktor

Kriminolog Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Suprapto, mengatakan ada banyak faktor yang mendorong pelaku dan setiap kasus memiliki penyebab yang tidak sama.

Jika menilik tiga kasus pembunuhan sadis yang terjadi dua pekan terakhir, Suprapto mengatakan inti dari ketiga kasus itu menjadi indikasi bahwa pelaku tidak memiliki kemampuan pengendalian diri sebagai salah satu level dari kecerdasan emosi (EQ).

Menurut dia, banyak warga yang tak memahami bahwa untuk memiliki pengendalian diri, seseorang harus bisa mencapai level IV untuk EQ.

Pertama, mampu memahami diri sendiri. Kedua, mampu mengendalikan diri sendiri. Ketiga, mampu memahami orang lain. Keempat, mampu mengendalikan orang lain.

Setiap orang, kata Suprapto, harusnya bisa berempati pada keluh kesah seseorang dan memiliki tenggang rasa dan empati. Jika tidak, akumulasi sakit hati bisa berubah jadi dendam, dan bila terlepas dari kontrol sosial dan ada kesempatan, terjadilah tindak kekerasan tersebut.

Ihwal wujud tindak kriminal yang semakin sadis, Suprapto berpendapat hal itu juga bisa disebabkan aspek pengaruh seperti peer group dan tayangan serta bacaan yang tidak mendidik.

Senada dengan Suprapto, psikolog forensik Reza Indragiri Amriel menyebut motif emosional ataupun motif instrumental yang mendorong para pelaku dalam membunuh korban mereka. Motif bersifat instrumental misalnya mengambil properti korban. Kalau motifnya emosional, imbuh Reza, hal itu boleh jadi pelaku memang memiliki masalah EQ.

Di sisi lain, kriminolog UI Josias Simon menilai lingkungan sosial menjadi pemicu bagi pelaku untuk melancarkan aksi. Menurutnya, pembunuhan dengan cara sadis dilakukan semata-mata sebagai solusi yang dipilih para pelaku untuk menyelesaikan masalah. (Gan/*/X-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya