Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TIGA peristiwa pembunuhan terjadi dalam sepekan di wilayah Jabodetabek. Pertama, pembunuhan satu keluarga di Bekasi yang dilakukan oleh kerabat dekatnya sendiri.
Selanjutnya, seorang laki-laki mantan jurnalis bernama Dufi yang ditemukan tewas di dalam drum di wilayah Kabupaten Bogor.
Hingga, seorang pemandu lagu yang ditemukan tewas di dalam lemari di wilayah Mampang. Ketiga pembunuhan tersebut dilakukan dengan cara sadis.
Kriminolog Universitas Indonesia Josias Simon mengungkapkan, kondisi lingkungan sosial menjadi pemicu bagi pelaku untuk melancarkan tindakannya. Josais memberikan tiga poin penting yang menurutnya menjadi masalah utama bagi seorang individu melakukan tindak kekerasan.
"Fenomena kurangnya kontrol sosial. Ketaatan hukum yang berkurang. Ditambah tidak adanya acuan norma yang dapat menjadi pakem," papar Josais saat dihubungi Media Indonesia pada Sabtu (24/11).
Josais menambahkan, pembunuhan dengan cara sadis dilakukan semata-mata sebagai solusi yang dipilih oleh para pelaku untuk menyelesaikan masalah.
"Jadi, yang pertama dalam kasus kekerasan itu si pelaku seolah-olah melakukan pembunuhan sebagai suatu solusi. Padahal cara kekerasan yang dilakukan itu adalah cara yang sadis," ungkap Josais.
Hal tersebut berkaitan dengan kurangnya kontrol individu dalam melihat masalah-masalah yang ada di lapangan. Selain itu, kondisi ketaatan hukum yang semakin melemah menjadikan individu mengabaikan tata cara berhubungan dengan individu lain.
"Misalnya terjadi prseteruan, dia tidak melihat lagi itu keluarnganya atau temennya. Dia hanya berfokus pada masalahnhya,"
Josias juga mengungkapkan, kini media sosial memiliki peran dalam memperkeruh batas antara hal yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan. Masyarakat tidak mengindahkan lagi norma yang berlaku di ruang publik.
"Padahal yg menentukan boleh dan tidak boleh ada norma. Padahal ada agama, pidana, kebiasaan masyarakat. Kelihatannya melemah karena acuan mana yang dipakai? Karena acuannya di media sosial kayaknya semua diperbolehkan. Jadi konsekuensinya tidak dipertimbangkan lagi," tuturnya.
Dirinya berpendapat, media sosial menjadi titik acuan bagi individu untuk melakukan sebuah tindakan tanpa melihat norma-norma yang berlaku.
"Cara-cara menyelesaikan persoalan yang cenderung tidak melihat norma-norma yg berlaku," pungkas Josias. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved